Obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik 3 bps ke 5,29%. Begitu juga Selandia Baru naik 2,4 bps ke 4,94%, Perancis naik 12,2 bps ke 4,56%, Italia naik 9,5 bps ke 4,43%.
Namun begitu, obligasi di kawasan Asia relatif lebih stabil. Obligasi Singapura hanya naik 0,1 bps ke 2,31%, Jepang relatif stagnan di posisi 2,95%, India stabil di 7,06%, dan Malaysia stabil di 3,85%.
Adapun di pasar obligasi domestik, yield tercatat turun di hampir semua tenor. Yield tenor 4 tahun turun paling tajam 6,7 bps ke 6,94%, disusul tenor 3 tahun turun 6,1 bps ke 6,84%.
Namun untuk obligasi berdenominasi dolar AS (INDON) justru ikut naik 1,5 bps ke 5,87%, tersengat pergerakan yield US Treasury.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati arah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) besok, 22-23 September. Pengumuman suku bunga acuan akan dilaksanakan pada Rabu (23/9/2026).
Ekonom dan analis memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%, mengingat pergerakan rupiah relatif stabil sepanjang September ini. Akan tetapi, keputusan BI tidak semata-mata akan ditentukan oleh kondisi rupiah.
Kenaikan US Treasury dan sikap hawkish The Fed menjadi faktor eksternal yang akan diperhitungkan para dewan gubernur, terutama karena kenaikan imbal hasil aset AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Dengan BI Rate yang sudah berada di 5,75%, ruang BI untuk menurunkan suku bunga juga berhadapan dengan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI juga akan mencermati pergerakan harga minyak mentah yang berisiko membuat inflasi menghangat.
Namun, inflasi terkini masih berada dalam sasaran BI, dan rupiah yang relatif stabil memungkinkan BI untuk mempertahankan BI Rate sambil menilai dampak kenaikan harga minyak dan suku bunga global terhadap pasar domestik.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih sebenarnya juga masih menyimpan risiko pelemahan. Support terdekat bisa menuju Rp17.780/US$ sampai dengan Rp17.800/US$. Level selanjutnya berpeluang adalah Rp17.850/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah terkonfirmasi membentuk tren bearish. Apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi melemah hingga Rp18.000/US$.
Sedangkan jika rupiah memberikan tanda-tanda menguat, maka resistance terdekat dapat menuju Rp17.700/US$. Sementara laju rupiah dalam resistance nantinya di antara Rp17.600/US$ sampai dengan Rp17.500/US$.
(riset/aji)


























