Logo Bloomberg Technoz

Bursa Asia Berpotensi Melemah Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

News
17 September 2026 07:30

Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)

Toby Alder - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia berpotensi melemah, mengikuti penurunan Wall Street setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 dan mengisyaratkan pengetatan kebijakan lebih lanjut untuk menekan inflasi. Dolar AS mencatat penguatan terbesar sejak Juni.

Kontrak berjangka indeks saham Australia, Hong Kong, dan Korea Selatan menunjukkan pelemahan, sementara kontrak berjangka Jepang mengindikasikan kenaikan tipis. Kontrak saham AS bergerak relatif stabil setelah indeks S&P 500 turun ke level terendah sejak Juli. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 ditutup nyaris tidak berubah setelah indeks saham semikonduktor menguat untuk sesi kedua berturut-turut.


Harga obligasi Treasury AS turun setelah keputusan tersebut, dengan obligasi berjangka pendek memimpin pelemahan. Gubernur The Fed Kevin Warsh mengambil sikap hawkish dengan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga tersebut telah “mengurangi dosis akomodasi kebijakan.” Imbal hasil obligasi bertenor dua tahun yang sensitif terhadap suku bunga naik ke level tertinggi sejak 2024, sehingga mendorong penguatan dolar AS untuk sesi ketiga berturut-turut. Pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga The Fed lainnya pada Oktober. Harga minyak dan emas melemah.

Investor kini mempertimbangkan seberapa cepat The Fed akan kembali memperketat kebijakan, ketika para pembuat kebijakan menghadapi tekanan inflasi yang semakin luas. Proyeksi The Fed menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga lainnya tahun ini, sehingga data inflasi dan pasar tenaga kerja yang akan dirilis menjelang pertemuan Oktober menjadi perhatian utama.