Mengulas ketegangan pada September 2020, sentimen negatif datang dari berbagai sisi, dalam dan luar negeri. Saat itu, perekonomian secara global benar–benar di ambang kejatuhan akibat tekanan dari pandemi Covid-19 yang mengganas.
Adapun tekanan amat berat bagi IHSG selanjutnya datang dari laporan Bank Indonesia (BI) di mana penjualan ritel dalam negeri drop hingga double digit pada 2020 saat–saat itu. Ini merupakan penurunan terdalam dan terlemah yang dimulai sejak Maret 2020.
September 2024 yang lalu, IHSG juga terpeleset di zona merah, singkatnya pasar cemas atas kesehatan pertumbuhan ekonomi China pada saat itu menyusut lebih cepat di tengah melambatnya pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun posisi itu berubah 180 derajat, usai stimulus ekonomi pemerintahan China yang digelontor besar–besaran.
Di sisi lain, stimulus ekonomi China tersebut justru menyebabkan aliran dana asing beralih ke Negeri Panda tersebut. Pelemahan IHSG tersulut aksi ambil untung investor yang berotasi ke pasar modal Asia Timur, dalam hal ini China, karena stimulus pemerintah China untuk perbaikan ekonomi di negerinya.
Sentimen Kurang Positif di Awal September 2026
Untuk sentimen September 2026 tahun ini, ada beberapa sentimen dan katalis yang dapat memengaruhi dengan kecenderungan menekan dan membatasi manuver IHSG.
Rilis data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 berada pada level inflasi 0,21% secara bulanan (month–to-month/mtm). Sedikit lebih tinggi dibanding konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi inflasi Agustus di level 0,2% mtm.
Sementara itu, inflasi secara tahunan (year–on–year/yoy) tembus level 3,19%. Torehan ini lebih rendah ketimbang prediksi analis yang hanya akan berada di level 3,11% yoy. Itu juga lebih tinggi dibanding realisasi inflasi pada Juli sebelumnya yang sebesar 2,88%.
Artinya, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Bank Indonesia (BI) menilai, inflasi IHK pada Agustus 2026 masih terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1%. Inflasi kelompok inti juga masih terjaga. Kendati inflasi inti tercatat 0,21% mtm, lebih tinggi dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,14% mtm. Secara tahunan, inflasi inti pada Agustus 2026 tercatat 2,92% yoy, yang juga lebih tinggi dibanding dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,76% yoy.
Selain inflasi, yang juga menjadi perhatian utama investor adalah rilis data aktivitas manufaktur yang jadi acuan dengan Purchasing Managers' Index (PMI).
Tercatat, aktivitas manufaktur Indonesia kembali mengalami kontraksi, yang dipicu oleh berkurangnya produksi dan penciptaan lapangan kerja. Kompetisi yang lebih ketat, pelemahan permintaan, dan mahalnya biaya bahan baku, turut menjadi pengaruh.
S&P Global melaporkan, PMI Indonesia pada Agustus 2026 berada pada level 49.8. Melemah dibanding bulan sebelumnya yang ada di angka 50,2. PMI yang berada di bawah 50 menandakan aktivitas yang berada di fase kontraksi, bukan ekspansi.
Hasil survei PMI manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 menyeret kabar kurang positif bagi perekonomian, ditandai dengan penurunan produksi, sejumlah perusahaan ikut memangkas gaji pekerja. Beberapa perusahaan lainnya mengaku kesulitan mempertahankan jumlah pekerja yang ada.
Padahal manufaktur menjadi penting untuk menjadi perhatian. Sebab, manufaktur adalah kontributor utama pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi lapangan usaha. Ketika sektor ini melambat, maka ekonomi secara keseluruhan akan ikut merosot.
Selanjutnya pada September 2026 ini akan terdapat agenda penting lanjutan, cadangan devisa, laporan Consumer Confidence Index atau Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), angka penjualan eceran atau ritel. Termasuk juga akan ada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia perihal suku bunga acuan BI Rate.
Jika dibanding dengan indeks regional, atau rekan-rekannya di Bursa Asia, Bursa Malaysia KLCI Index mencatatkan rata–rata penurunan mencapai 2,02%, menyusul Korea Stock Exchange KOSPI Index juga melemah 0,84%, dan SETI Thailand Index terdepresiasi 0,68% historis 10 tahunnya.
Jika mencermati lebih lanjut, berdasarkan data Bloomberg, pelemahan paling dalam dihadapi oleh Bursa Malaysia KLCI Index dengan ambles 2,02% secara rata-rata perdagangan saham pada bulan September.
Adapun sentimen yang memperberat indeks utama Malaysia adalah pada tahun 2022, pivot Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang jauh berkebalikan dari estimasi pasar, menyulut episode risk-off yang hebat di pasar saham Malaysia.
Investor berharap inflasi AS mulai terkendali sehingga The Fed dapat memperlambat kenaikan suku bunga atau bahkan melakukan pivot, namun justru harapan itu pupus dan menyeret saham turun ketika data inflasi AS pada bulan Agustus menunjukkan tekanan harga masih tinggi, ekspektasi The Fed pivot pun runtuh. Akibatnya, pasar kembali memprediksi kenaikan suku bunga AS yang agresif.
(fad)





























