Logo Bloomberg Technoz

“Penahanan Pertamax masih dapat dibenarkan sebagai peredam sementara, tetapi sebaiknya bukan kebijakan permanen. Pemerintah dan Pertamina perlu membuka secara transparan setiap bulan berapa harga berdasarkan formula, berapa harga jual aktual, berapa selisihnya, siapa yang menanggung selisih tersebut, dan berapa volumenya,” kata Josua ketika dihubungi, Rabu (2/9/2026).

Pengendara mengantre mengisi bbm Pertamax di SPBU Pertamina, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Skenario Terburuk

Di memperkirakan beban yang dipikul oleh Pertamina dapat mendekati Rp1,6 triliun/bulan atau mendekati Rp21 triliun/tahun pada skenario terburuk.

Dengan asumsi konsumsi Pertamax pada 2024 sekitar 6,33 juta kiloliter, didapatkan rata-rata sekitar 527 juta liter/bulan.

Jika volume 2026 kurang lebih berada pada skala tersebut, setiap selisih harga Rp1.000/liter menghasilkan beban sekitar Rp527 miliar/bulan.

Kemudian, dengan selisih Rp2.000—Rp3.300/liter, potensi beban menjadi sekitar Rp1,1—Rp1,7 triliun/bulan. Sementara itu, jika selisihnya Rp2.500—Rp3.000/liter, bebannya sekitar Rp1,3—Rp1,6 triliun/bulan. 

“Jika kondisi tersebut secara hipotetis dipertahankan selama setahun dengan volume yang sama, nilainya dapat mencapai sekitar Rp16—Rp19 triliun, bahkan mendekati Rp21 triliun pada skenario selisih tertinggi,” terang Josua.

Dia menegaskan kebijakan tersebut seharusnya hanya menjadi kebijakan jangka pendek yang diambil pemerintah atau Pertamina untuk meredam guncangan daya beli kelompok masyarakat pengguna Pertamax.

Dia juga menilai kebijakan untuk menjaga daya beli seharusnya diarahkan kepada kelompok masyarakat yang memang membutuhkan daripada mempertahankan harga Pertamax untuk seluruh konsumen.

“Mekanisme penyesuaian bertahap juga lebih sehat daripada membekukan harga terlalu lama lalu menaikkannya sekaligus,” tegas Josua.

PT Pertamina Patra Niaga hari ini mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax Green 95 menjadi Rp19.150/liter atau naik Rp2.550/liter dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Harga baru tersebut efektif berlaku mulai 2 September 2026 pukul 00.00 WIB. Pada hari sebelumnya, padahal, Pertamina juga sudah mengkerek harga Pertamax Turbo dan BBM jenis solar nonsubsidi.

Kemarin, harga BBM RON 98 atau Pertamax Turbo naik Rp1.300/liter dari Agustus menjadi Rp19.600/liter.

Selain Pertamax Turbo, seluruh BBM jenis solar nonsubsidi atau Dex Series turut mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Dexlite saat ini dibanderol Rp23.700/liter atau naik Rp4.000/liter dari bulan lalu, sedangkan Pertamina Dex Rp25.200/liter atau naik Rp4.050 dari Agustus.

Bensin nonsubsidi RON 92 atau Pertamax tidak mengalami penyesuaian harga pada 1 September 2026, alias tetap Rp15.950/liter.

VP Corporate Communication PPN Kitty Andhora menyatakan penyesuaian harga dilakukan dengan mengacu pada formula yang ditetapkan pemerintah, serta turut mempertimbangkan sejumlah indikator.

Dia menjelaskan sejumlah indikator yang dipertimbangkan a.l. harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, serta faktor relevan lainnya termasuk tingkat daya beli masyarakat pengguna BBM.

Adapun, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat terjadinya lonjakan konsumsi JBKP Pertalite sebesar 12,92% pada Juli 2026, sebagai dampak dari kenaikan harga Pertamax sejak Juni.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menjelaskan kenaikan signifikan terhadap permintaan Pertalite sudah terjadi sejak Juni, usai pemerintah memberlakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026.

"Ini [Pertalite] konsumsinya cukup lumayan naik pascakenaikan harga BBM nonsubsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," tutur Wahyudi dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Rabu (26/8/2026).

 Berikut daftar harga BBM Pertamina per 2 September 2026:

  • Pertamax: Rp15.950
  • Pertamax Green 95: Rp19.150
  • Pertamax Turbo: Rp19.600
  • Dexlite: Rp23.700
  • Pertamina Dex: Rp25.200

(azr/wdh)

No more pages