Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan yield di pasar surat utang hari ini mengindikasikan bahwa premi risiko Indonesia sedang terpangkas, didukung oleh keputusan BI untuk mempertahankan BI Rate di 5,75%, serta berlanjutnya stabilitas rupiah. 

Hal ini sejalan dengan Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun Indonesia yang kembali turun ke 84,99, posisi terendahnya sejak Mei. CDS selama ini menjadi salah satu barometer persepsi investor global terhadap risiko gagal bayar (default risk) suatu negara. 

Dengan terpangkasnya CDS pada Agustus dari level tertingginya tahun ini yang mencapai 105,9 pada Maret lalu menandakan investor mulai memangkas premi risiko untuk memegang aset-aset Indonesia. 

Dari kawasan, penguatan mata uang Asia tertopang oleh lesunya indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang terpangkas 0,15% ke 98,75. 

Sepanjang pekan ini, won Korea Selatan menguat 2,41%, disusul baht Thailand 1,38%, ringgit Malaysia 1,05%, rupiah 0,75%, dolar Singapura 0,7%, dolar Taiwan 0,55%, yuan offshore 0,38%, yuan China 0,33%, dan yen Jepang 0,33%.

Sementara dolar Hong Kong lebih terbatas dengan menguat 0,09%. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,35%, disusul rupee India 0,33%.

(riset/aji)

No more pages