Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Defensif, Nada Hawkish The Fed dan Harga Minyak Jadi Beban

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 October 2026 09:22

Sejumlah uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan pasar spot Rabu (7/10/2026) dengan penguatan 0,2% ke Rp17.865/US$. Namun tak lama berselang, penguatan rupiah tergerus dan cuma tersisa 0,07% ke Rp17.887/US$ dipicu tekanan eksternal yang kian menguat. 

Yield obligasi Amerika Serikat (AS), US Treasury, terpantau kembali berada di 5,3%, setelah sebelumnya mereda. Kenaikan yield ini diikuti dengan penguatan indeks dolar AS 0,14% ke 101,97. 

Tekanan ini kian diperkuat oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, usai terjadinya penyerangan terhadap sejumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz dan menyebabkan melambungnya harga minyak mentah. Brent tercatat naik 1,17% jadi US$101,63/barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga terangkat 1,06% jadi US$90,39/barel. 


Kenaikan harga minyak dengan cepat membuat mata uang Asia melemah. Yen Jepang langsung tergerus 0,23%, disusul peso Filipina, dolar Singapura, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, yuan offshore, dan baht Thailand, serta dolar Hong Kong.

Sementara, won Korea Selatan menguat secara terbatas. 

Rupiah menguat terbatas kala mata uang Asia melemah (Bloomberg)