Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup Menguat, Terjangkar Cadangan Devisa

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 October 2026 15:24

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan dengan penguatan 0,1% ke Rp17.882/US$, tertopang aksi beli obligasi yang cukup meluas pada Rabu (7/10/2026). 

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bertahan tinggi berada di posisi 102,3, menguat 0,47%, kala yield US Treasury 10 tahun melanjutkan kenaikan 1,9 basis poin ke 5,29%. 

Kenaikan US Treasury diikuti sebagian besar obligasi global. Yield obligasi Korea Selatan naik 1,5 bps ke 4,37%, India naik 3,1 bps ke 7,22%, dan Filipina naik 4,3 bps ke 7,55%. Adapun yield obligasi RI tenor 10 tahun juga terkerek 4,6 bps jadi 7,16%. 


Hal ini membuat sebagian mata uang kawasan melemah. Rupee melemah paling tajam hari ini, disusul dolar Singapura, baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, dan yuan offshore. 

Rupiah dan mata uang Asia (Bloomberg)

Dari dalam negeri, cadangan devisa yang relatif terjaga dan hanya terkuras US$0,2 miliar memberi jangkar stabilitas bagi gerak rupiah hari ini. Hal ini menunjukkan intervensi Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter efektif dalam menjaga rupiah tanpa banyak menguras cadangan devisa.