Yield Treasury Terpangkas, Rupiah Menguat ke Rp17.901/US$
Tim Riset Bloomberg Technoz
06 October 2026 15:16

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Selasa (6/10/2026) dengan penguatan terbatas 0,03% ke Rp17.901/US$. Penguatan rupiah ditopang oleh harga minyak mentah brent kembali terpangkas 0,68% ke posisi US$99,7/barel.
Sementara, di pasar surat utang global tekanan juga sedikit mereda dengan turunnya yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 2,3 bps ke 5,28%. Meredanya tekanan ini memberi ruang penguatan bagi sebagian pasar valuta Asia.
Won Korea Selatan menguat 0,17%, disusul baht Thailand, yuan offshore, dolar Singapura, dan rupiah. Namun, tak sedikit juga yang tetap melemah. Seperti, peso Filipina, rupee India, yen Jepang, dolar Taiwan, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong.
Dari pasar obligasi dunia, meredanya tekanan yield di pasar Treasury juga membawa angin segar bagi sebagian negara. Yield obligasi Inggris, misalnya, terpangkas 5,6 bps ke 5,36%, bahkan Prancis dan Italia memangkas yield obligasi tenor 10 tahun sebesar 10,5 bps ke 4,74% dan 11,6 bps jadi 4,5%.
Namun, penurunan yield ini belum sepenuhnya menular di pasar obligasi Asia. Singapura masih mengalami kenaikan yield 3,4 bps jadi 2,47%, diikuti Thailand yang ikut naik 1,4 bps jadi 2,34%. Begitu juga dengan obligasi Australia naik 4,9 bps jadi 5,39% dan Selandia Baru naik 6,6 bps jadi 5,09%.






























