Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Kembali Dibayangi Tekanan Harga Minyak & Dolar AS

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 October 2026 08:21

Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah diproyeksikan melemah di perdagangan pasar spot Rabu (7/10/2026). Pelemahan itu dipicu oleh naiknya harga minyak mentah brent 0,92% ke US$101,51/barel, serta penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) 0,1% ke 101,93. 

Di pasar valuta Asia, sebagian besar mata uang melemah. Yen Jepang terpangkas 0,21%, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura lebih terbatas masing-masing 0,04%. Lalu, yuan offshore dan baht Thailand melemah 0,,03%.

Pagi ini, pelemahan mata uang kawasan lantaran harga minyak kembali melambung usai terjadinya penyerangan terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak yang kembali berada di atas US$100/barel menggambarkan bahwa premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. 


Meskipun sebenarnya arus pengiriman dikabarkan mulai meningkat di Selat Hormuz, tetapi pasar harus berhitung ulang terkait risiko gangguan jika eskalasi serangan terhadap kapal terus berlanjut. 

Sedangkan, rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) bergerak di rentang Rp17.895/US$, usai melemah 0,14%. Kemarin, rupiah spot justru menguat ke Rp17.900/US$ kala pasar obligasi mengalami tekanan aksi jual dengan kenaikan yield di hampir semua tenor, terutama tenor menengah hingga panjang.