Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tertekan Pagi Ini Imbas Aksi Jual di Pasar Obligasi

Tim Riset Bloomberg Technoz
06 October 2026 09:24

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Selasa (6/10/2026) dengan pelemahan 0,04% ke Rp17.919/US$, menyusul sentimen eksternal yang belum kunjung mereda. 

Kali ini, tekanan eksternal yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) terkerek naik ke level 5,31%. Padahal harga minyak mentah mulai sedikit menurun ke US$100/barel dari posisi sebelumnya US$103/barel. 

Kenaikan yield US Treasury diikuti oleh posisi indeks dolar AS yang bertahan tinggi di level 102,12. Hal ini membawa sebagian mata uang Asia di zona merah. 


Peso Filipina melemah paling tajam, disusul won Korea Selatan, rupiah, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan baht Thailand, juga dolar Hong Kong dan yen Jepang. Sebaliknya, dolar Taiwan menguat bersama yuan offshore. 

Rupiah dan mata uang Asia. (Bloomberg)

Sementara itu, di pasar domestik yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di sekitar 7,19%. Dengan US Treasury 10 tahun di 5,31%, selisih imbal hasil Indonesia terhadap AS memang masih memberi daya tarik.