Hal ini menjadikan aset berdenominasi dolar AS banyak dilepas, salah satunya US Treasury yang mengalami lonjakan yield sepanjang bulan ini.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah siap memperbesar pembelian kembali (buyback) surat utang tenor panjang, dan akan meluncurkan inisiatif fiskal baru untuk menekan biaya utang yang berada di level tertinggi dalam beberapa tahun. Bessent menyebut nilainya bisa melebihi US$4 miliar, yang direncanakan mulai bulan depan.
Langkah tersebut sempat memberikan sentimen positif bagi pasar obligasi global, tetapi mereda setelah yield US Treasury kembali naik. Yield US Treasury tenor 30 tahun kembali naik sekitar 5,4 bps ke 5,24%.
Pudarnya pesona US Treasury karena investor menilai langkah buyback tersebut hanya memberikan kelegaan sementara, belum menyelesaikan persoalan ekonomi AS yang tetap mengalami defisit.
Aksi jual di pasar US Treasury membuat Surat Utang Negara (SUN) banyak dilirik dan mengalami penurunan yield. Data perdagangan Bloomberg pagi ini menunjukkan yield 1 tahun turun 2 bps ke 6,73%, diikuti tenor 2 tahun 11 bps ke 6,65%. Sementara, tenor acuan 10 tahun juga turun 0,2 bps ke 7,02%.
Aksi beli di pasar SUN turut menopang laju rupiah sejak kemarin. Rupiah relatif stabil bergerak di rentang Rp17.710-17.750/US$ hari ini.
(riset/aji)





























