Logo Bloomberg Technoz

Sinyal dari survei konsumen tersebut mendapatkan konfirmasi dari indikator penjualan eceran. BI mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 berada di level 225,0 atau masih terkontraksi 3% secara tahunan. Memang, secara bulanan IPR masih tumbuh tipis 0,7%.

Namun, kenaikan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi telah memasuki fase pemulihan yang solid. Setelah tumbuh 5,2% pada kuartal I-2026, IPR berbalik terkontraksi 3,5% pada kuartal II-2026. Terjadi perubahan sebesar 8,7 poin persentase hanya dalam satu kuartal.

Pada kuartal I, konsumsi mendapatkan dorongan kuat dari momentum musiman seperti Ramadan dan Idulfitri. Aktivitas belanja masyarakat meningkat, mobilitas pun naik, efek musiman ini yang mendorong konsumsi rumah tangga. Namun, ketika faktor musiman tersebut menghilang, terlihat bahwa daya dorong konsumsi yang mendasarinya belum cukup kuat.

Masalah Keyakinan 

Pelemahan konsumsi itu bukan tanpa sebab. Keyakinan yang melemah jadi salah satu pemicunya. Tak salah bila ekonomi bukan sekadar angka, tapi juga rasa. Maka, soal keyakinan konsumen yang disurvei oleh BI juga bukan sekadar angka, tapi jadi indikator awal tentang bagaimana rumah tangga mengambil keputusan ekonominya.

Kala masyarakat yakin terhadap pekerjaan, pendapatan, dan prospek ekonomi, mereka cenderung lebih berani melakukan pembelian, termasuk barang tahan lama.

Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, rumah tangga akan cenderung menunda pembelian yang tidak mendesak dan memperbesar kehati-hatian dalam mengelola pendapatan. 

Jika keyakinan ini tidak dikelola dan terus menurun, dampaknya bukan cuma terjadi pada konsumsi hari ini, tapi rumah tangga berpotensi mengubah perilaku mereka secara permanen. Misalnya, meningkatkan tabungan, menunda pembelian, mengurangi konsumsi non-primer (diskresioner), dan menahan ekspansi pengeluaran. 

Pengunjung berbelanja di salah satu supermarket di Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Namun, prospek ke depan tak sepenuhnya suram. BI dalam laporannya tetap optimis dan menyebut penjualan eceran pada Juli diperkirakan meningkat dan tumbuh, meski tipis, sebesar 0,9% secara tahunan. 

"Peningkatan penjualan tersebut didorong oleh kenaikan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, disertai pertumbuhan positif pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya," sebut laporan BI. 

Namun demikian, sejatinya penjulanan secara bulanan pada Juli 2026 diperkirakan masih akan terkontraksi 0,3%. Lantaran ada normalisasi permintaan setelah musiman selesai seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) dan libur sekolah. 

Sektor Manufaktur

Sementara, dari sektor manufaktur, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansif pada bulan Juli. 

Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia kembali di level 50,2 untuk periode Juli. Naik dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 46,9. Pertumbuhan positif ini tertopang oleh volume produksi lantaran stabilnya pemesanan baru (new orders) pada Juli. 

Sejalan dengan itu, keyakinan terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan juga kembali menguat, dengan tingkat optimisme mencapai level tertinggi dalam enam bulan. 

Peningkatan produksi tersebut umumnya didorong oleh membaiknya kondisi permintaan. Kendati demikian, kenaikan harga bahan baku yang terus berlanjut masih membatasi potensi ekspansi produksi yang lebih kuat.

Ilustrasi aktivitas produksi di pabrik. 

Meski begitu, PMI sebesar 50,2 belum dapat disebut sebagai ekspansi yang kuat. Posisi tersebut masih sangat dekat dengan ambang batas 50. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya satu kali kenaikan, melainkan konsistensi selama beberapa bulan.

Jika PMI dapat bertahan di atas 50 dan kemudian bergerak menuju level 51–52 atau lebih, sinyal pemulihan akan menjadi jauh lebih kuat. Sehingga, untuk saat ini, lebih tepat mengatakan bahwa manufaktur mulai stabil daripada sudah pulih sepenuhnya.

Karena itu juga, kabar baik dari PMI harus dimanfaatkan. Pemerintah perlu memastikan pemulihan tersebut tak cuma berhenti pada angka produksi. Yang lebih penting adalah apakah pemulihan tersebut menciptakan lapangan kerja formal, meningkatkan pendapatan dan memperkuat daya beli.

Bagi Indonesia, yang pertumbuhan ekonominya ditopang oleh angka konsumsi rumah tangga, membutuhkan penopang yang kuat, dalam bentuk pendapatan yang berkelanjutan. 

Rumah tangga akan lebih percaya diri membelanjakan uang ketika mereka memiliki kepastian pekerjaan, pendapatan yang meningkat, inflasi yang terkendali dan prospek ekonomi yang lebih jelas.

Dengan demikian, kebijakan untuk menopang pertumbuhan tidak cukup hanya berfokus pada sisi permintaan lewat serangkaian stimulus konsumsi. Paling tidak, pemerintah juga perlu memperkuat sisi penawaran dengan memastikan sektor produktif mampu menciptakan pekerjaan dan meningkatkan produktivitas. 

(dsp)

No more pages