Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup di Bawah Rp18.000/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
29 September 2026 16:30

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pasar spot Selasa (29/9/2026) dengan stagnasi, berada di posisi yang sama dengan posisi penutupan kemarin di Rp17.975/US$.

Sepanjang perdagangan, volatilitas rupiah meninggi dipicu oleh tekanan eksternal dari kenaikan harga minyak mentah ke atas US$106/barel dan kenaikan yield US Treasury ke 5,21% yang menyebabkan aksi sell-off di pasar surat utang global, termasuk di pasar Surat Utang Negara (SUN). 

Di pasar obligasi domestik, yield obligasi tenor 10 tahun tercatat naik 8,1 basis poin (bps) ke 7,22%, tertinggi dalam enam pekan terakhir. Sementara yield obligasi tenor 5 tahun dan 15 tahun sama-sama melonjak 7,5 bps.


Begitu juga dengan yield 4 tahun naik 4,2 bps ke 7,05%, sedangkan tenor 9 tahun meningkat 3,5 bps jadi 7,19%. Di tenor pendek kenaikan yield juga terjadi untuk tenor 3 tahun yang terangkat sebesar 2,4 bps. 

Aksi jual di pasar obligasi juga dipicu oleh ekspektasi adanya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) setidaknya satu kali lagi sebesar 25 bps. Pelaku pasar memperkirakan adanya empat kali kenaikan masing-masing 25 bps sampai pertengahan 2027.