Logo Bloomberg Technoz

Pasar SUN Variatif, Yield Ada yang Naik dan Turun

Tim Riset Bloomberg Technoz
12 August 2026 11:59

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan yield di pasar Surat Utang Negara (SUN) siang ini (12/8/2026) cukup beragam. Pelemahan rupiah 0,16% ke Rp17.869/US$ belum sepenuhnya menekan pasar SUN, dengan pergerakan yield yang beragam menggambarkan investor belum melakukan aksi jual secara besar-besaran terhadap aset rupiah. 

Melansir data Bloomberg, yield tenor 1 tahun naik 1 basis poin (bps) menjadi 6,95%, sedangkan tenor 2 tahun naik cukup signifikan 4,3 bps ke 7,02%. Tekanan di tenor pendek juga terlihat pada tenor 7 tahun yang masih naik 2,2 bps jadi 7,21%. 

Namun, yield di sejumlah tenor panjang justru tercatat turun. Yield tenor 13 tahun, misalnya, turun paling dalam 5,1 bps jadi 7,31%, disusul tenor 16 tahun yang turun 2,1 bps jadi 7,32%, dan 18 tahun turun 1,1 bps jadi 7,34%. Yield 40 tahun turun 1,1 bps jadi 7,27%. 


Sementara, yield tenor acuan 10 tahun, relatif tidak bergerak hanya berubah 0,2 bps jadi 7,24%. Pelemahan rupiah sepertinya belum menjadi tekanan serius di pasar obligasi. 

Yield obligasi RI berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau INDON juga diwarnai aksi beli. Pada sebagian besar tenor, yield terlihat turun. Tenor 2 tahun mencatat penurunan yield 1,2 bps 4,31%, tenor 5 tahun turun 1,3 bps menjadi 4,98%, dan tenor 10 tahun mengalami penurunan yield 1,3 bps jadi 5,67%.