Logo Bloomberg Technoz

Nyaris keseluruhan saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah saham–saham konsumen non primer yang amblas mencapai 2,84%, susul saham barang baku, dan saham infrastruktur yang melemah 2,44%, dan 2,18%.

IHSG dan Bursa saham Benua Kuning terjerembab senada dengan Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, Wall Street melemah di mana Nasdaq Composite turun 2,15%, S&P 500 jatuh 1,21%, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) minus 0,97%.

Sentimen yang membuat pelaku pasar cemas datang dari kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tidak sama sekali menunjukkan asa damai, di mana baik Washington maupun Teheran tidak menunjukkan itikad untuk mundur atau membuka ruang perundingan baru.

Terlebih lagi, seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran dan menyatakan bakal memintai pertanggungjawaban negara tersebut atas setiap serangan susulan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah. 

Trump mengatakan kepada Axios, ia sedang mempertimbangkan "serangan masif" dan "makin dekat untuk mengambil keputusan" terkait langkah tersebut.

“Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mendongkrak harga minyak mentah, memicu kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali terakselerasi dan menunda pelonggaran suku bunga, bahkan berpotensi memicu The Fed untuk menaikkan suku bunga,” papar Sameer Samana dari Wells Fargo Investment Institute.

Harga minyak mentah menuju lonjakan mingguan tertinggi, harga West Texas Intermediate melejit hingga berada di atas US$92,12 per barel, naik sekitar 12,66% untuk minggu ini. 

Adapun harga Brent melejit di atas US$101 untuk pertama kalinya sejak Mei, usai kenaikan yang amat signifikan mencapai 14,64% point–to–point, yang tersulut serangan Houthi terhadap kapal tanker di Laut Merah membuka front baru dalam konflik Timur Tengah, sementara Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperpanjang serangan AS terhadap Iran.

Harga Minyak Brent Melejit Hingga Tembus US$100 per Barel (Sumber: Bloomberg)

Lonjakan harga minyak mentah di pasar global dinilai bakal mengerek inflasi, memperparah risiko tersebut hingga memicu kecemasan akan potensi kenaikan suku bunga acuan. 

“Putaran kedua konflik militer ini akan lebih luas dibanding putaran yang pertama,” ujar Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group sekaligus mantan pejabat Gedung Putih, dalam temu duga dengan Bloomberg Television mengenai perang Iran.

“Risikonya sangat besar, bukan hanya terhadap jalur pelayaran, tetapi juga terhadap infrastruktur energi,” tambahnya.

Hanya beberapa hari menjelang rapat Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), trader pasar uang menunjukkan para pelaku pasar memperhitungkan peluang 35% untuk kenaikan suku bunga, melonjak dari sebelumnya hanya 10% pada minggu lalu. 

(fad)

No more pages