Namun selain faktor koreksi teknikal, penurunan harga emas juga rasanya terkait dengan lonjakan harga minyak. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup meroket hampir 7% ke US$ 100,48/barel.
"Harga minyak yang tinggi akibat konflik di Timur Tengah membuat prospek harga emas menjadi rumit. Dampak inflasi akibat kenaikan harga energi akan membuat bank sentral sangat hati-hati, sehingga investor memilih keluar,” kata Ewa Manthey, Commodities Strategist ING Bank N/V, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga masih tinggi.
(aji)
No more pages































