Hal ini juga sejalan dengan Outlook Tebu 2025 yang dipublikasikan oleh Kementerian Pertanian yang menyebut bahwa konsumsi GKP selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir cenderung mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 1,70%.
Di sisi lain, masih dari sumber yang sama, produksi GKP secara nasional terprediksi akan terus meningkat dengan rata-rata 3,56% per tahun sehingga pada 2028 dapat mencapai 2,70 juta ton.
Sementara berdasarkan data Kemenko Pangan, produksi gula pada 2021 sebanyak 2.130.719 ton; 2022 mencapai 2.350.833 ton; 2023 sebanyak 2.405.908 ton; dan 2024 mencapai 2.465.739 ton. Adapun pertumbuhan produksi gula sejak 2020 hingga 2024 mencapai 3,91% per tahun.
Namun, hal itu kata Dwi tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan Indonesia telah swasembada gula secara keseluruhan.
Pasalnya, kebutuhan gula industri yang digunakan sebagai bahan baku makanan dan minuman masih sepenuhnya bergantung pada impor raw sugar. Dwi memperkirakan kebutuhan gula untuk industri saja mencapai sekitar 3,5 juta ton per tahun.
Kembali lewat Outlook Tebu 2025, diterangkan bahwa lebih dari 50% kebutuhan domestik gula Indonesia khususnya untuk industri masih dipenuhi lewat impor dikarenakan tidak mencukupinya produksi dalam negeri.
Selain itu, seiring perkembangan jumlah penduduk dan industri berbahan baku gula, konsumsi domestik gula Indonesia pada tahun 2028 diperkirakan akan mencapai 8,03 juta ton.
Mengutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), impor gula juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2020 mencapai 5.539.678 ton; 2021 5.482.616 ton; 2022 sebanyak 6.007.602 ton; 2023 mencapai 5.069.455 ton, 2024 sebanyak 5.313.529 ton, dan 2025 mencapai 6,33 juta ton.
Sehingga, apabila mengacu pada target pemerintah dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023, swasembada seharusnya mencakup dua kategori sekaligus, yakni gula konsumsi dan gula industri.
"Iya yang namanya swasembada ya kalau sudah nggak ada impor sama sekali. Indikasinya itu saja, ukurannya itu saja. Kalau misalnya gula produk, gula rafinasi atau gula industri itu masih menggunakan bahan baku impor, ya namanya belum swasemba. Itu ukuran kami sih," pungkas Dwi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo dalam taklimat pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresiden di awal pekan ini menegaskan bawah Indonesia telah berhasil mencatatkan beberapa capaian strategis salah satunya swasembada delapan komoditas pangan.
Ia juga menilai capaian-capaian yang telah dicapai Indonesia saat ini menjadi bukti bahwa RI telah mampu memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah kondisi dunia yang menghadapi ancaman krisis pangan akibat konflik dan perubahan iklim.
"Dunia sedang perang. Banyak negara risau dan panik menghadapi masalah pangan. Kita sudah lebih dahulu memperkuat ketahanan pangan kita," ujar Prabowo.
(ain)






























