Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, BMI menyatakan sentimen tersebut makin menguat setelah Kementerian ESDM merevisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang menaikkan harga acuan transaksi bijih nikel domestik sehingga meningkatkan biaya pengadaan bijih bagi smelter.

Proyeksi harga nikel sampai dengan 2030./dok. BMI

“Harga rata-rata telah mencapai US$17.862/ton secara year to date [ytd] hingga 7 Juli, didukung oleh ekspektasi bahwa kebijakan Pemerintah Indonesia yang lebih ketat akan membatasi ketersediaan bijih dan meningkatkan biaya pengadaan, di samping risiko terhadap produksi HPAL domestik yang berasal dari makin ketatnya ketersediaan asam sulfat,” tulis BMI dalam riset terbarunya, dikutip Kamis (16/7/2026).

BMI mencatat pengetatan RKAB, kenaikan HPM, serta risiko pasokan sulfur bagi smelter HPAL mendorong harga nikel menyentuh level tertinggi tahun ini sebesar US$19.642/ton pada 5 Mei 2026.

Akan tetapi, BMI mencermati bahwa sentimen tersebut berubah pada ketika Kementerian ESDM mengisyaratkan akan menyetujui tambahan kuota bijih nikel.

Menurut BMI, langkah tersebut meredakan kekhawatiran terhadap pasokan bahan baku sehingga harga nikel turun ke US$16.250/ton pada 2 Juli 2026.

“Panduan terbaru pemerintah sejalan dengan pandangan kami pada April bahwa kerangka kuota bijih Indonesia pada akhirnya akan dikelola secara fleksibel sebagai respons terhadap kondisi pasar dan kebutuhan kapasitas hilir, sehingga mengurangi kemungkinan bahwa kebijakan yang lebih ketat akan berujung pada kekurangan bahan baku yang berkepanjangan,” ungkap BMI.

Outlook produksi nikel Indonesia./dok. BMI

Kelebihan Pasok

Adapun, Indef Green Transition Initiative (GTI) memprediksi kondisi kelebihan pasok atau oversupply nikel dunia tidak akan membaik secara signifikan usai Indonesia memastikan tidak akan merevisi kuota produksi dalam RKAB 2026 secara besar-besaran.

Head of Industrial and Transport Decarbonization Indef GTI Andry Satrio Nugroho menyatakan klaim pemangkasan RKAB yang dapat memotong 30% pasokan bijih dunia rupanya hanya bakal mengurangi pasokan nikel primer global sebesar 4%.

Andry memprediksi pasokan nikel global bakal berkurang gegara kebijakan tersebut dari 3,88 juta ton pada 2025 menjadi 3,71 juta ton pada 2026. Dengan begitu, defisit pasokan yang tercipta hanya 32.000 ton atau 0,85% dari konsumsi dunia.

Kendati begitu, Andy menegaskan kondisi tersebut harus dibandingkan dengan stok atau inventori bursa logam global yakni London Metal Excange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE).

Kontrak bersih nikel LME di tengah sentimen pasar terhadap kebijakan Indonesia./dok. BMI

Andry mencatat gabungan inventori logam nikel di LME dan SHFE mencapai sekitar 468.000 ton pada pertengahan 2026, sekitar 6,5 pekan konsumsi global sebanyak 72.058 ton per pekan.

Lalu, kondisi tersebut lebih besar 14,6 kali dibandingkan dengan defisit tahunan.

“Pada laju defisit sekarang, dibutuhkan hampir 15 tahun untuk menguras stok tersebut. Selama persediaan yang bisa diserahkan ke bursa sebesar itu masih ada, tidak ada pembeli yang perlu membayar premi untuk logam segera,” kata Andry ketika dihubungi, Rabu (15/7/2026),

“Pemangkasan RKAB yang kabarnya bisa memotong 30% pasokan bijih dunia itu nyatanya hanya menghasilkan pengurangan pasokan nikel primer global sebesar 4%,” tegasnya.

Adapun, Kementerian ESDM menegaskan tidak akan ada peningkatan signifikan terhadap kuota produksi nikel dalam RKAB 2026. Namun, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan pasar guna mencegah terjadinya kelebihan pasokan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan penyesuaian RKAB hanya akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pemurnian (smelter) yang saat ini masih kekurangan pasokan bijih nikel.

"Ini saya mau jelaskan, nikel tidak ada kenaikan [kuota produksi di RKAB] kecuali hanya mengejar untuk smelter yang masih kekurangan suplai. Itu saja," ungkap Tri saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/7/2026) petang.

Lokasi penambangan nikel yang dioperasikan oleh Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Saat ditanya mengenai perincian angka penambahan kuota tersebut, Tri enggan membeberkan secara spesifik.

Dia menyebut Ditjen Minerba masih menghitung total kebutuhan smelter dan mencocokkannya dengan kuota RKAB yang telah disetujui sebelumnya.

Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta ton.

Nikel dilego di harga US$16.803/ton di London Metal Exchange (LME) hari ini, naik tipis 0,23% dari penutupan hari sebelumnya.

(azr/wdh)

No more pages