Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospect tahun 2026 mengestimasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran moderat sebesar 5% imbas adanya pemberat dari investasi dan ekspor sebelum akhirnya diramal mencapai 5,2% di tahun 2027.
"Proyeksi 2026 mencerminkan realisasi kuartal I yang lebih kuat dari perkiraan serta percepatan belanja pemerintah di awal tahun (frontloaded public spending), bukan karena kondisi eksternal yang lebih kondusif maupun penilaian risiko yang membaik." sebut Bank Dunia dalam laporannya, dikutip Rabu (15/7/2026).
Sementara itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5%, didukung oleh stimulus fiskal dengan konsumsi pemerintah meningkat 8,7%.
“Namun, ketergantungan pada konsumsi pemerintah sebagai penopang pertumbuhan jangka pendek mengandung risiko, mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di tengah penerapan aturan batas defisit fiskal sesuai ketentuan perundang-undangan (statutory fiscal rule),” kata Bank Dunia.
Sementara itu, skenario dasar (baseline) mengasumsikan bahwa konflik di Timur Tengah tetap terkendali, tetapi berlanjut hingga 2026, dengan gangguan pada pasar minyak dan hambatan pengiriman yang mempertahankan harga minyak mentah Brent di kisaran US$94 per barel, atau sekitar US$24 lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam APBN 2026.
Kondisi moneter global diperkirakan tetap relatif ketat, ditandai oleh imbal hasil obligasi dan premi risiko yang tinggi serta rentan terhadap munculnya kembali guncangan. Permintaan eksternal diproyeksikan melemah pada 2026 sebelum pulih secara bertahap pada 2027–2028.
IMF
International Monetary Fund (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027, di tengah perlambatan yang dialami sejumlah negara di kawasan Asia maupun ekonomi besar dunia.
Berdasarkan laporan terbaru bertajuk World Economic Outlook (WEO) Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology edisi Juli 2026, proyeksi ekonomi Indonesia tidak mengalami perubahan bila dibandingkan dengan estimasi pada laporan WEO edisi April 2026.
Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang proyeksinya tetap, ketika sejumlah negara lain mengalami perlambatan pertumbuhan.
Secara terperinci IMF memaparkan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara yakni Malaysia diproyeksikan tumbuh 4,7% pada 2026, melambat dari realisasi 5,2% pada 2025.
Sementara Filipina diperkirakan hanya tumbuh 3,9%, turun cukup tajam dibandingkan 4,4% pada 2025. Thailand juga diproyeksikan melambat menjadi 1,9% dari 2,4% pada tahun sebelumnya.
Standar and Poor`s
Lembaga pemeringkat kredit internasional Standard and Poor's atau S&P Global Ratings memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia akan tumbuh 5,1% pada 2026. Hal ini dipicu kinerja ekonomi dapat melambat pada kuartal-kuartal berikutnya karena ketidakpastian eksternal yang berkelanjutan dan suku bunga domestik yang lebih tinggi.
"Kami memperkirakan pertumbuhan rata-rata 4,9% per tahun dari tahun 2026 hingga 2029," demikian tercantum dalam laporan S&P, dikutip Senin (13/7/2026).
Dalam laporan S&P disebutkan, pendapatan rata-rata di Indonesia tetap lebih rendah dibanding sebagian besar negara berperingkat investasi lainnya, tetapi meningkat lebih cepat.
PDB per kapita dapat mencapai US$5.200 tahun ini, hanya naik sedikit dari US$5.100 pada tahun 2025 dibandingkan dengan pertumbuhan PDB nominal yang diperkirakan sebesar 8,3%.
"Hal ini terutama disebabkan oleh depresiasi rupiah," demikian tertulis dalam laporan.
Terlepas dari pergerakan nilai tukar, pertumbuhan tren Indonesia sebesar 3,9% akan lebih baik daripada sebagian besar ekonomi dengan tingkat pendapatan yang serupa.
S&P meyakini bahwa lembaga politik dan kebijakan di Indonesia secara umum stabil dan bebas dari tantangan terhadap legitimasinya. Para pembuat kebijakan Indonesia terus memprioritaskan stabilitas ekonomi dan keuangan.
OECD
Berbeda dari lembaga lain yang masih mempertahankan outlook di atas 5%, OECD justru memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7% pada 2026, kemudian meningkat menjadi 5,0 persen pada 2027.
“Kenaikan biaya energi dan ketidakpastian kebijakan diperkirakan akan menekan konsumsi dan investasi di tengah melemahnya pasar tenaga kerja,” tulis OECD dalam OECD Economic Outlook Edisi Juni 2026.
OECD juga mencatat ekspor neto diproyeksikan tidak memberikan kontribusi bersih terhadap pertumbuhan, karena melemahnya permintaan global terhadap sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia diperkirakan akan diimbangi oleh penurunan impor seiring melambatnya permintaan domestik.
Sementara itu, inflasi diproyeksikan meningkat menjadi 3,4% pada 2026, seiring kenaikan harga energi global yang secara bertahap diteruskan ke harga domestik, meskipun pemerintah masih mempertahankan pembekuan harga BBM bersubsidi.
(ell)






























