Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertama kalinya neraca dagang defisit setelah mengalami surplus dagang selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Terakhir, neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$89,1 juta pada April 2026.
Selain itu, pada Mei 2026 nilai ekspor RI tercatat sebesar US$23,2 miliar atau turun 5,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terutama akibat melemahnya ekspor nonmigas. Sementara itu, nilai impor Indonesia mencapai US$24,81 miliar atau meningkat 22,16% secara tahunan.
Kenaikan impor terutama berasal dari impor bahan baku dan penolong yang mencapai US$17,58 miliar atau tumbuh 25,17% dibandingkan Mei 2025. Adapun impor barang modal tercatat sebesar US$5 miliar atau meningkat 12,7% secara tahunan.
(dhf)
































