Logo Bloomberg Technoz

Neraca Dagang Mei 2026 Defisit, Ini Respons Pemerintah

Mis Fransiska Dewi
02 July 2026 08:30

Airlangga Hartarto pada konferensi pers pakta dagang RI-AS di kantornya, Kamis (24/7/2025). (Pramesti Regita Cindy/Bloomberg Technoz)
Airlangga Hartarto pada konferensi pers pakta dagang RI-AS di kantornya, Kamis (24/7/2025). (Pramesti Regita Cindy/Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kompak menyebut harga minyak mentah yang melambung merupakan biang kerok neraca perdagangan barang Indonesia sehingga mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026.

Pernyataan itu merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertama kalinya neraca dagang defisit setelah mengalami surplus dagang selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Terakhir, neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$89,1 juta pada April 2026.

Purbaya mengungkapkan defisit neraca perdagangan disebabkan oleh harga minyak mentah yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah, sehingga nilai impor mengalami kenaikan yang cukup tajam.


“Dugaan saya karena itu, karena kita impor migas harganya lagi naik kan,” kata Purbaya ditemui di kantornya, Kamis (1/7/2026) petang. 

Purbaya menilai, ke depan neraca perdagangan akan kembali terkendali apabila harga minyak dunia menurun. “Defisit membesar karena harga minyak dunia yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan,” tambahnya.