Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Bubar Usai Serangan Baru
News
10 July 2026 08:50

Magdalena Del Valle dan Sonya Dymova - Bloomberg News
Bloomberg, Saling serang udara selama dua hari serta pemberlakuan kembali sanksi minyak oleh Amerika Serikat membuat gencatan senjata yang dicapai Presiden Donald Trump dengan Iran bulan lalu berada dalam kondisi yang tidak menentu. Kesepakatan itu belum secara resmi berakhir, tetapi juga hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda masih berjalan.
Pada tahap awal, nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang mulai berlaku pada 18 Juni itu dirancang untuk mengakhiri seluruh permusuhan, memberikan keringanan sanksi bagi Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya berhasil mencapai ketiga tujuan itu. Bahkan, Trump pada Rabu mengatakan bahwa kesepakatan tersebut telah "berakhir". Meski demikian, perjanjian itu belum secara resmi dibatalkan, dan beberapa ketentuannya masih tetap dijalankan.
Seorang pejabat Amerika Serikat, yang berbicara dengan syarat identitasnya dirahasiakan, mengatakan pada Kamis bahwa pembicaraan teknis (technical talks) antara kedua pihak masih terus berlangsung. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk mencari penyelesaian dengan Iran.
Situasi ini menegaskan ketidakjelasan mengenai arah konflik selanjutnya, yang kembali memanas tanpa benar-benar berubah menjadi perang terbuka. Pemerintahan Trump belum meningkatkan serangan udara hingga seintensif fase awal konflik. Harga minyak memang melonjak sepanjang pekan ini, tetapi masih jauh di bawah level tertinggi yang sempat dicapai pada Maret. Di saat yang sama, peluang untuk menggelar pembahasan yang substantif mengenai isu-isu seperti program nuklir Iran—yang seharusnya dibahas pada fase kedua kesepakatan—dinilai masih sangat kecil.





























