Hasil survei ini menggambarkan bahwa masyarakat bukan hanya merasa kondisi ekonomi sekarang mulai kurang baik dibandingkan bulan sebelumnya, tapi juga mulai menurunkan ekspektasi terhadap perbaikan ekonomi dalam enam bulan mendatang.
Bahkan, penurunan persepsi kondisi saat ini lebih mengkhawatirkan sebab terjadi pada seluruh komponen. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun menjadi 119,8 dari 123,2. Hal ini mencerminkan banyak rumah tangga yang merasa pendapatannya tak sebaik bulan sebelumnya.
Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja juga melemah menjadi 101,8 dari posisi sebelumnya 105. Terbatasnya kondisi lapangan kerja telah membuat persepsi masyarakat mendekati batas pesimis di level 100.
Sementara itu, indeks pembelian barang tahan lama juga ikut turun menjadi 105,9 dari posisi sebelumnya 108,3. Indeks ini mencerminkan kondisi masyarakat yang mulai menunda pembelian barang bernilai besar seperti kendaraan, elektronik, maupun furnitur.
Pelemahan yang terjadi pada indeks pembelian barang tahan lama (durable goods) sejatinya layak mendapat perhatian khusus, terlebih di negara yang mengandalkan konsumsi dan daya beli sebagai roda penggerak perekonomiannya. Dalam banyak siklus ekonomi, keputusan membeli durable goods ini merupakan indikator dini perubahan perlaku konsumsi rumah tangga.
Ketika konsumen mulai menunda pembelian aset bernilai besar, hal tersebut biasanya mencerminkan meningkatnya kehati-hatian terhadap kondisi pendapatan maupun ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) RI, perubahan perilaku ini menjadi sinyal penting bagi prospek pertumbuhan ekonomi di semester kedua tahun ini.
Kepercayaan Kelompok Usia Produktif Pudar
Perubahan perilaku yang paling signifikan terjadi pada kelompok usia produktif muda, di rentang usia 20-30 tahun. Biasanya, kelompok usia ini menjadi kelompok dengan tingkat optimisme tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, Namun, justru pada kelompok ini juga penurunan keyakinan terlihat cukup dalam.
IKK kelompok usia 20-30 tahun turun menjadi 124,3, tetap menjadi yang tertinggi daripada kelompok usia lain, tapi lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan optimisme juga terjadi pada indikator penting. Seperti Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) kelompok usia ini turun menjadi 129,7, Indeks Pembelian Barang Tahan Lama turun menjadi 114, dan Indeks Ekspektasi Penghasilan melemah menjadi 140,4. Di sisi lain, ekspektasi terhadap kegiatan usaha enam bulan mendatang ikut menurun seperti yang terjadi pada seluruh kelompok usia.
Fenomena ini punya makna ekonomi yang cukup penting. Sebab, kelompok 20-30 tahun merupakan kelompok yang umumnya berada pad afase awal hingga pertengahan karier, biasanya memiliki kecenderungan konsumtif, dan menjadi penggerak utama permintaan terhadap sektor properti, gaya hidup, serta ekonomi digital seperti e-commerce atau marketplace.
Di saat kayakinan kelompok usia yang selama ini paling optimis memudar, hal ini menjadi indikasi bahwa perlambatan ekonomi sepertinya mulai terasa bahkan oleh kelompok yang paling produktif sekalipun.
Penurunan optimisme pada kelompok konsumen usia muda ini juga sejalan dengan melemahnya persepsi terhadap lapangan kerja.
Walaupun indeks ketersediaan lapangan kerja kelompok usia 20-40 tahun masih berada pada zona optimis, tren penurunannya menggambarkan bahwa semakin banyak responden yang merasa peluang untuk mendapat pekerjaan jadi lebih sulit daripada beberapa bulan sebelumnya.
Di tengah perlambatan perekrutan tenaga kerja di berbagai sektor, persepsi tersebut jadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja domestik mulai kehilangan momentum.
Hal ini sejalan dengan Indeks PMI Manufaktur RI yang kembali masuk ke zona kontraksi pada Juni, dan kinerja perdagangan juga melemah tajam hingga mencatat defisit pertama sejak 2020.
Di sisi lain, BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin (bps) sejak Mei, demi meredam volatilitas rupiah dan menahan tekanan inflasi akibat gangguan distribusi yang terjadi akibat konflik Timur Tengah.
Meski suku bunga yang lebih tinggi sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memberikan dukungan terhadap rupiah, namun kondisi likuiditas yang lebih ketat diperkirakan akan terus membatasi permintaan kredit rumah tangga serta menekan belanja yang bersifat diskresioner.
Konsumsi Bertahan Lewat Tabungan
Data IKK bulan ini juga menunjukkan adanya perubahan struktur keuangan rumah tangga. Pada Juni, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat menjadi 73% dari sebelumnya 72,3% pada Mei. Sebaliknya, proporsi pendapatan yang ditabung justru tercatat turun menjadi 17% dari 17,5%, sedangkan rasio cicilan terhadap pendapatan relatif stabil di kisaran 10%.
Data ini menunjukkan kondisi rumah tangga yang masih mempertahankan konsumsinya namun dengan mengurangi kemampuan menabung mereka. Dengan kata lain, daya beli masyarakat memang belum sepenuhnya runtuh, tapi bantalan keuangan rumah tangga terlihat mulai menipis.
Dalam jangka pendek, kondisi ini mungkin masih bisa menopang pertumbuhan konsumsi. Tapi, jika pendaptan tidak membaik, atau pasar tenaga kerja tidak kembali menguat, ruang konsumsi rumah tangga akan semakin terbatas karena cadangan tabungan terus berkurang.
Memang, belum ada indikasi bahwa ekonomi memasuki fase kontraksi. Seluruh indeks utama masih berada di atas level optimis. Akan tetapi, indikator itu juga sedang bergerak ke arah yang sama: melambat.
Samuel Sekuritas dalam laporannya memperkirakan konsumsi domestik masih akan mengalami moderasi dan keyakinan konsumen akan tetap berada di bawah tekanan moderat dalam beberapa bulan mendatang.
"Seiring rumah tangga menyesuaikan diri dengan biaya pinjaman yang lebih tinggi dan inflasi yang masih tinggi, terutama di tengah pelemahan rupiah yang berlanjut," sebut Samuel Sekuritas dalam catatannya, Rabu (8/7/2026).
Dengan kondisi tersebut, agaknya tantangan pemerintah pada semester kedua tahun ini bukan lagi sekadar menjaga bagaimana agar konsumsi tetap tumbuh tinggi, tapi memastikan agar kepercayaan rumah tangga tidak terus terkikis.
Sebab, jika optimisme kelompok usia produktif mulai memudar, sementara kelompok berpendapatan menengah mulai menahan belanja, lalu rumah tangga mulai mengurangi tabungannya untuk mempertahankan konsumsi demi membeli kebutuhan dasar, maka perlambatan ekonomi bukan sekadar risiko, tapi realitas yang sedang terjadi.
(dsp)





























