Menurut Hans, keputusan MSCI yang masih mempertahankan status freeze terhadap Indonesia bukan berarti peluang turun kasta semakin besar. MSCI diperkirakan masih mengevaluasi efektivitas reformasi pasar modal yang telah dilakukan regulator, termasuk penggunaan data High Shareholding Concentration (HSC), klasifikasi investor yang lebih rinci, serta pengungkapan kepemilikan saham di atas 1%.
"MSCI tentu membutuhkan waktu untuk menerapkan data baru Indonesia yang kini lebih lengkap dan transparan. Data tersebut akan mempertajam proses analisis mereka," ujarnya.
Hans juga menilai kondisi eksternal mulai lebih kondusif bagi pasar saham domestik. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta turunnya harga minyak dunia dinilai mengurangi risiko terhadap perekonomian Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
"Seiring turunnya harga minyak dunia, risiko Indonesia ikut menurun sehingga tekanan terhadap pasar saham juga berkurang," katanya.
Risiko Menurun
Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, risiko Indonesia turun ke frontier market memang telah menurun dibandingkan sebelum keputusan MSCI pada Juni, namun belum sepenuhnya hilang.
Menurutnya, MSCI masih mempertahankan sejumlah kebijakan pembekuan pada peninjauan Agustus 2026, seperti tidak menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF), tidak menambah saham Indonesia ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta belum mengizinkan perpindahan saham ke kelompok indeks yang lebih tinggi.
"Basis skenario kami, Indonesia masih memiliki peluang mempertahankan status Emerging Market. Risiko terbesar bukan lagi pada kurangnya regulasi, tetapi apakah implementasi reformasi benar-benar menghasilkan perubahan nyata di pasar," kata Liza.
Ia menilai regulator perlu menunjukkan bukti nyata bahwa peningkatan free float, penanganan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, transparansi data, hingga likuiditas pasar benar-benar mengalami perbaikan sebelum peninjauan MSCI pada November mendatang.
Liza juga menilai keputusan MSCI pada Agustus bukan menjadi kejutan bagi pelaku pasar karena sebagian besar telah diantisipasi. Namun, ketidakpastian menjelang evaluasi November diperkirakan masih akan membatasi ruang penguatan IHSG.
"Pasar tidak panik terhadap review Agustus, tetapi tetap berhati-hati menjelang November. Investor asing berbasis indeks masih menunggu kepastian sebelum menambah eksposur ke pasar Indonesia," imbuh dia.
(dhf)





























