Logo Bloomberg Technoz

Aksi Jual Saham RI Justru Pikat Investor Raksasa Afsel

News
08 July 2026 14:05

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Ray Ndlovu - Bloomberg News

Bloomberg, Aksi jual (selloff) terhadap aset-aset finansial Indonesia yang tajam selama pecahnya perang Iran dinilai telah menciptakan peluang investasi yang menarik. Momentum ini mendorong sebuah perusahaan manajer investasi asal Afrika Selatan yang mengelola dana kelolaan sebesar US$29 miliar (sekitar Rp522 triliun) untuk masuk memborong pasar domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejauh ini mencatatkan diri sebagai indeks acuan dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun ini. Dalam denominasi dolar AS, indeks saham RI ambles lebih dari 35% di antara 92 indeks saham global yang dipantau oleh Bloomberg. Kejatuhan pasar ini sebagian besar dipicu oleh peringatan keras dari MSCI Inc. pada Januari lalu, yang menyebut posisi Indonesia terancam diturunkan (downgrade) ke status pasar perintis (frontier market) akibat masalah aksesibilitas investasi serta terbatasnya jumlah saham beredar (free float).


Merespons rapor merah tersebut, otoritas terkait sebenarnya telah meluncurkan serangkaian reformasi kebijakan yang rencananya akan ditinjau kembali oleh MSCI pada bulan November mendatang. Namun, sentimen pasar kembali mendapat pukulan pada hari Rabu (8/7/2026) ini setelah S&P Dow Jones Indices memberi sinyal bahwa Indonesia bisa benar-benar kehilangan statusnya sebagai pasar berkembang (emerging market) jika permasalahan di pasar sahamnya terus berlanjut. Imbasnya, IHSG langsung ditutup merosot 1,3% di tengah tren pelemahan bursa saham regional Asia hari ini.

Selain faktor tersebut, para investor global juga dibuat cemas oleh sejumlah sentimen domestik, mulai dari arah kebijakan fiskal, tata kelola pemerintahan, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tingkat prediktabilitas regulasi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.