“Di saham, investor cenderung memilih big caps yang likuid, free float lebih jelas, governance lebih baik, neraca kuat, serta punya arus kas dan dividen stabil,” tuturnya.
Dia berharap regulator dapat menerapkan reformasi bursa saham Indonesia dengan konsisten dan menghasilkan perbaikan nyata.
“Dalam satu bulan ke depan, akan sangat membantu jika regulator bisa menyajikan bukti before and after implementasi aturan baru,” kata dia.
Sebelumnya, IHSG berakhir di level 5.986 pada penutupan perdagangan Selasa (8/72026). Indeks komposit menguat 1,19%.
Volume perdagangan tercatat melibatkan 22,36 miliar saham. Nilai perdagangan mencapai Rp10,39 triliun dengan frekuensi yang terjadi 1,67 juta kali diperjualbelikan.
“Penguatan ditopang kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi US$145,6 miliar, rencana insentif PPN DTP untuk sektor properti, serta ekspektasi kebijakan pemerintah yang lebih pro-pertumbuhan,” kata technical analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda lewat catatannya, Rabu (8/7/2026).
Kendati demikian, Reza menambahkan, nilai transaksi yang masih rendah di kisaran Rp10,37 triliun menunjukkan investor masih cenderung selektif.
“Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 5.734 dan resistance psikologis 6.000,” kata dia.
Dibekukan MSCI
Sebelumnya, MSCI Inc membekukan saham Indonesia dalam review indeks Agustus 2026.
MSCI membekukan seluruh peningkatan foreign inclusion factors (FIF) dan number of shares (NOS) dalam MSCI Global Investable Market Indexes yang menjadi bagian dari tinjauan indeks Agustus 2026.
Mengutip pengumuman resminya pada 6 Juli 2026 waktu setempat, MSCI turut membekukan penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Selain itu, penyedia indeks global itu tidak akan menerapkan kenaikan klasifikasi antarindeks berdasarkan segmen ukuran, termasuk perpindahan dari small cap ke standard.
“MSCI akan tetap menghapus saham-saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka High Shareholding Concentration,” dikutip dari pengumuman terbaru MSCI, Selasa (7/7/2026).
Adapun, MSCI akan mengadopsi data pengungkapan saham 1% untuk menyesuaikan estimasi free float dalam tinjauan terbaru ini.
Di sisi lain, MSCI menambahkan informasi lebih lanjut mengenai tinjauan pasar Indonesia akan disajikan sebelum review indeks November 2026. Sebelumnya, MSCI Inc tetap mempertahankan status bursa saham Indonesia di emerging markets.
Kendati demikian, MSCI menilai kualitas informasi dan transparansi pasar Indonesia memburuk.
“Pengumuman MSCI ini menjadi momentum untuk terus melanjutkan, memperkuat, dan mengakselerasi agenda-agenda reformasi pasar modal yang telah kita canangkan sejak awal tahun ini," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam keterangannya pada Rabu (24/6/2026).
Hasan menilai laporan MSCI tidak hanya mengonfirmasi posisi Indonesia di kelompok emerging market, tetapi juga mencatat berbagai langkah reformasi yang telah dijalankan regulator dan pelaku pasar.
Menurutnya, penggunaan data yang lebih transparan dalam proses penilaian MSCI menunjukkan sejumlah upaya pembenahan mulai mendapat perhatian dari investor global.
(naw)





























