Meski demikian, Sarkia mengingatkan investor untuk memperhatikan sejumlah faktor yang masih membayangi kinerja jangka pendek perusahaan.
"Perlu dicermati tekanan operasional jangka pendek dari ramp-up aset, OCF yang negatif, valuasi premium dan free float saat ini yang masih di sekitar 10%," ujar Sarkia.
Sarkia menyampaikan, saat ini CDIA diperdagangkan pada enterprise value terhadap EBITDA (EV/EBITDA) sebesar 132 kali, jauh di atas rata-rata emiten sejenis yang hanya berada di kisaran 5 kali.
Perbedaan valuasi yang sangat lebar tersebut membuat saham CDIA dinilai telah mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi. Kendati demikian, Sarkia menilai CDIA memiliki fondasi bisnis yang relatif kuat.
Perseroan merupakan perusahaan investasi infrastruktur yang memiliki portofolio di sektor energi, logistik, pelabuhan dan penyimpanan, serta pengelolaan air dengan dukungan ekosistem Grup Chandra Asri.
Adapun dalam waktu sekitar dua tahun sejak dibentuk, CDIA telah membangun 12 entitas anak dan perusahaan asosiasi melalui serangkaian akuisisi maupun pembentukan entitas baru.
Sarkia menilai, pertumbuhan ke depan masih akan ditopang ekspansi, khususnya di bisnis logistik maritim.
Setelah IPO, perseroan menambah lima kapal baru yang mendorong EBITDA naik 67,6% secara tahunan menjadi US$9 juta pada kuartal I-2026.
Pendapatan segmen logistik juga meningkat 45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong ekspansi armada dan meningkatnya penetrasi pasar.
Selain itu, perseroan juga masih memiliki sisa dana IPO sekitar Rp1,1 triliun yang akan digunakan untuk mendukung ekspansi.
Dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan tiga kapal baru sepanjang 2026, pengembangan fasilitas tank farm dan proyek ethylene pipeline yang progresnya telah mencapai sekitar 60% dengan target operasional pada 2027, serta membuka peluang ekspansi anorganik berikutnya.
Menurut Sarkia, pola ekspansi yang agresif tersebut mencerminkan karakter Grup Chandra Asri yang mengandalkan pembangunan ekosistem bisnis sebagai motor pertumbuhan.
Namun, pada saat yang sama investor tetap perlu mencermati tekanan margin akibat proses ramp-up aset baru serta arus kas operasional yang masih negatif, di samping valuasi yang telah berada jauh di atas rata-rata industri dan porsi saham publik yang masih terbatas.
(cpa/naw)































