Pelemahan pada saham infrastruktur diperberat oleh amblesnya harga saham PT Indosat Tbk (ISAT) amblas 4,54%, dan saham PT LinkNet Tbk (LINK) yang turun 3,62%. Serta saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) drop 2,07%.
Adapun saham–saham transportasi juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) jatuh 4,52% dan saham PT Steady Safe Tbk (SAFE) juga terjebak di zona merah dengan penurunan 2,42%. Serta saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) drop 1,85%.
Sementara indeks saham LQ45 yang berisikan saham–saham unggulan turut melemah dan tertekan di zona merah, dengan kehilangan 0,55% di posisi 578,578.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan rendahnya nilai transaksi dipicu oleh kombinasi sejumlah sentimen yang masih membebani pasar.
"Market kita cenderung sepi karena dipicu oleh aksi jual bersih investor asing secara besar-besaran, pelemahan nilai tukar rupiah, serta sikap pelaku pasar domestik yang memilih mengambil posisi wait and see akibat minimnya katalis positif yang ada di pasar saat ini," ujar Harry lewat pesan singkat pada Kamis (2/7/2026).
Menurut Harry, aktivitas perdagangan berpeluang kembali meningkat apabila muncul kombinasi katalis positif, mulai dari pemulihan nilai tukar rupiah, kepastian arah kebijakan domestik, hingga pelonggaran kebijakan moneter global.
Untuk kebijakan domestik, Harry menilai pasar membutuhkan langkah yang mampu meningkatkan kepercayaan investor. Menurutnya, kebijakan pemerintah yang dinilai kredibel akan menjadi salah satu faktor penting untuk mengembalikan minat pelaku pasar.
Senada, Analis Panin Sekuritas, Zaidan menilai lesunya nilai transaksi juga dipengaruhi oleh perhatian investor yang terpecah ke sejumlah penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Di sisi lain, pelaku pasar masih cenderung konservatif karena sentimen makro domestik belum cukup akomodatif serta keputusan klasifikasi pasar dari MSCI yang masih ditunda.
“Karena kombinasi ramainya IPO dan sikap konservatif pasar seiring sentimen makro domestik yang belum akomodatif, serta ditundanya keputusan MSCI," kata Zaidan.
Transaksi Susut
Mengutip siaran pers BEI, rata-rata nilai transaksi harian bursa susut 35,9% menjadi Rp11,27 triliun dari Rp17,58 triliun pada pekan sebelumnya.
“Rata-rata nilai transaksi harian bursa mengalami perubahan sebesar 35,9% menjadi Rp11,27 triliun dari Rp17,58 triliun,” kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad lewat siaran pers, dikutip Minggu (5/7/2026).
Nilai transaksi yang ciut itu juga tercermin dari jebloknya rata-rata volume transaksi harian bursa selama pekan ini.
Rata-rata volume transaksi harian bursa minus 30,35% menjadi 17,54 miliar lembar saham dari posisi sebelumnya 25,18 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.
“Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa selama sepekan turut mengalami perubahan sebesar 16,71% menjadi 1,44 juta kali transaksi dari 1,73 kali transaksi pada pekan sebelumnya,” tuturnya.
Kapitalisasi pasar BEI turut menyusut 0,14% menjadi Rp10.287 triliun dari Rp10.302 triliun. Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian bursa selama sepekan turut menyusut 16,71% menjadi 1,44 juta kali transaksi dari 1,73 transaksi.
(naw)































