Logo Bloomberg Technoz

Kalender Ekonomi: Inflasi Eropa, hingga Cadangan Devisa RI

Redaksi
06 July 2026 05:59

Cadangan Devisa Indonesia Turun Lagi, Mei 2026 Menjadi US$144,9 Miliar (Diolah)
Cadangan Devisa Indonesia Turun Lagi, Mei 2026 Menjadi US$144,9 Miliar (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pekan ini, perhatian pelaku pasar global akan tertuju pada perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) setelah pasar tenaga kerja mulai menunjukkan perlambatan pada Juni.

Perekrutan tenaga kerja melambat tajam setelah tiga bulan berturut-turut melampaui ekspektasi, sehingga mendorong investor mengurangi spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini. Arah kebijakan moneter AS tetap akan jadi sentimen utama yang akan memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

Di Eropa, inflasi kawasan melambat melampaui ekspektasi pada Juni, seiring turunnya harga minyak ke level sebelum konflik Timur Tengah. Meski tekanan inflasi mulai mereda, pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) masih mewaspadai dampak lanjutan dari kenaikan harga energi terhadap inflasi. Sementara itu, hubungan dagang antara Uni Eropa dan China juga menjadi sorotan karena belum adanya kesepakatan mengenai langkah untuk mengurangi defisit perdagangan yang terus membesar.


Sementara dari Asia, Jepang kini berada di ambang mencatatkan rekor pertumbuhan ekonomi terpanjang sejak Perang Dunia II, didukung kuatnya ekspor produk terkait kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, dua manajer investasi besar China memperingatkan bahwa reli saham AI global berpotensi membentuk bubble atau gelembung yang tak berkelanjutan.

Lebih lanjut, perhatian pelaku pasar juga akan tertuju pada laporan cadangan devisa Indonesia edisi Juni. Sebagai catatan, hingga Mei 2026 cadangan devisa telah tergerus Rp11,57 miliar menjadi US$144,9 miliar. Posisi ini setara dengan 5,5 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri, dan menjadi posisi cadangan devisa terendah dalam dua tahun terakhir.