Logo Bloomberg Technoz

Atas dasar itu, dia menilai skenario harga logam nikel melejit kembali ke level US$20.000/ton dan memicu short squeeze massal seperti pada 2022 bakal sulit terulang lagi dalam jangka pendek hingga menengah.

Alasannya, kata Wahyu, harga nikel saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh produksi dari Indonesia, tetapi juga melambatnya permintaan, mencukupinya cadangan global, serta meningkatnya produksi dari negara kompetitor.

Wahyu menyatakan sejumlah lembaga internasional memprediksi konsumsi nikel global mengalami perlambatan pertumbuhan pada tahun ini menjadi ke kisaran 3% dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 5,8%.

Selain itu, permintaan nikel untuk industri baja nirkarat di Eropa dan China masih stagnan akibat pemulihan ekonomi global yang lambat.

Dia juga meyakini permintaan nikel melambat gegara terdapat penurunan pangsa pasar baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berbasis nickel manganese cobalt (NMC).

“Adopsi baterai NMC cenderung melambat dan baru diprediksi akan kembali mendominasi saat teknologi solid-state battery siap dikomersialkan dalam skala besar,” tegas dia.

Lebih lanjut, Wahyu menilai short squeeze ekstrem yang sempat terjadi pada 2022 sangat bergantung dengan permintaan dan produksi nikel.

Saat ini, kata dia, kondisi tersebut sulit terulang karena stok nikel di LME dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir mendekati 275.000 ton.

“Persediaan yang melimpah ini bertindak sebagai bantalan atau buffer yang meredam setiap guncangan pasokan mendadak,” ungkap Wahyu.

Meski kuota bijih nikel Indonesia dipangkas menjadi 260—270 juta ton, Wahyu menilai pelarangan ekspor bijih dari Zimbabwe dan insentif pemrosesan domestik di Indonesia turut mengubah peta struktural nikel.

“Namun, pasokan global secara agregat masih mencatatkan surplus struktural akibat efisiensi pengolahan nikel kelas 2 menjadi kelas 1,” tegas dia.

Proses penyortiran bijih di fasilitas pengolahan nikel. (Fotografer: Dimas Ardian/Bloomberg)

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mencatat kebutuhan pasokan bijih nikel untuk smelter domestik mencapai 350—360 juta ton; baik bijih saprolit atau nikel kadar tinggi maupun limonit atau nikel kadar rendah.

Jika dibandingkan dengan kuota produksi nasional dalam RKAB 2026 sejumlah 250—260 juta ton, terdapat potensi kekurangan bjih sekitar 100 juta ton untuk kebutuhan industri pengolahan.

“Pemotongan produksi bijih yang signifikan ini, di satu sisi akan memberikan dampak yang luas, karena akan memberikan dampak dari industri hulu hingga hilir, serta industri pendukung lainnya,” kata Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono, belum lama ini..

“Perhapi menilai, sebagai negara dengan cadangan dan produksi bijih nikel terbesar di dunia, sebaiknya Pemerintah menghitung secara benar dan akurat, seberapa besar sebenarnya kebutuhan bijih nikel domestik untuk memenuhi kebutuhan pabrik smelter,” lanjut dia.

Nikel dilego di harga US$17.172/ton pada di London Metal Exchange (LME) hari ini, turun 3,28% dari penutupan sebelumnya..

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah di bawah US$14.000/ton dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages