Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Beber Alasan Sederet Kebijakan BI Belum Kuatkan Rupiah

Mis Fransiska Dewi
24 June 2026 13:40

Suasana keramaian di depan kantor Bank Indonesia, Jakarta. Dok: Dimas Ardian/Bloomberg
Suasana keramaian di depan kantor Bank Indonesia, Jakarta. Dok: Dimas Ardian/Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom mengungkapkan pandangan terkait fenomena rupiah yang masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di kisaran Rp17.900/US$ meski Bank Indonesia (BI) telah mengambil sejumlah kebijakan baru di sektor moneter.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan dalam ekonomi terbuka, nilai tukar bukan hanya ditentukan oleh kebijakan bank sentral, melainkan mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan. 

“Karena itu, pelemahan rupiah tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kegagalan BI,” kata Yusuf ketika dihubungi, Rabu (24/6/2026).


Dia menyebut terdapat tiga faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah melemah. Pertama, tekanan eksternal yang dihadapi memang sangat besar. Perlambatan ekonomi global akibat perang tarif, ketidakpastian di Amerika Serikat (AS) dan China, kelanjutan perdamaian antara Iran dan AS, serta meningkatnya sikap hati-hati investor mendorong arus modal keluar dari banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Dalam situasi seperti ini, kata dia, hampir semua mata uang negara berkembang mengalami tekanan. Sehingga persoalannya bukan semata-mata respons BI, tetapi juga lingkungan global yang belum sepenuhnya kondusif.