Logo Bloomberg Technoz

RI Pangkas Produksi, Nikel Bisa Terus Tertahan di Atas US$15.000

Azura Yumna Ramadani Purnama
24 June 2026 11:20

Kepingan logam nikel dipamerkan di New York Stock Exchange (NYSE)./Bloomberg-Michael Nagle
Kepingan logam nikel dipamerkan di New York Stock Exchange (NYSE)./Bloomberg-Michael Nagle

Bloomberg Technoz, Jakarta – Analis komoditas memprediksi batas bawah atau price floor harga logam nikel dunia bakal berada di sekitar US$15.000/ton, tersulut kebijakan pemangkasan kuota produksi bijih nikel dan penurunan utilitas smelter di Indonesia.

Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono menegaskan selama sentimen makro masih defensif dan stok logam nikel di Logam Metal Exchange (LME) tetap menumpuk, maka harga nikel sulit melonjak di atas US$20.000/ton, meskipun Indonesia memangkas produksi.

Langkah Indonesia memangkas kuota produksi nikel dalam RKAB 2026 menjadi sekitar 260—270 juta ton basah atau wet metric ton (wmt) terbukti sangat efektif menjadi penahan kejatuhan harga logam tersebut.


"Kebijakan tersebut, di sisi lain, juga menaikkan marginal cost of production serta mengubah proyeksi pasar dari surplus ekstrem menjadi relatif seimbang bahkan defisit tipis di sisi hulu,” kata Wahyu ketika dihubungi, Rabu (24/6/2026).

Harga Nikel Naik ke Level Tertinggi Dua Tahun. (Bloomberg)

Permintaan Melambat