Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan Pertamax merupakan BBM nonsubsidi dan harganya ditentukan sesuai mekanisme pasar, yakni mempertimbangkan harga minyak mentah dunia dan faktor lainnya.
“Kalau bicara BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, harganya ini kan memang mekanismenya dilepaskan ke harga pasar. Jadi ketika harga minyak ini naik, mau tidak mau ada penyesuaian,” kata Anggia kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/6/2026).
Anggia juga menilai efek domino dari kenaikan harga BBM dapat diminimalisir, sebab hanya BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan harga.
“Paling tidak, efek domino ini bisa diminimalisir. Kenapa? Karena, contoh untuk transportasi umum, angkutan umum, angkutan logistik itu kan masih menggunakan BBM yang disubsidi oleh pemerintah,” ujar dia.
Di sisi lain, Anggia juga menyatakan kenaikan harga Pertamax dilakukan untuk menjaga industri hilir migas tetap bergairah. Penyebabnya, kata dia, penyesuaian harga BBM RON 92 juga dilakukan oleh operator SPBU swasta.
Di sisi lain, operator SPBU swasta PT Aneka Petroindo Raya (APR) atau BP-AKR dan PT Vivo Energi Indonesia (Vivo) turut menaikkan harga BBM jenis bensin RON 92. Kedua operator SPBU swasta tersebut sama-sama menaikkan harga BBM RON 92 menjadi Rp16.670/liter.
Kenaikan harga bensin RON 92 dilakukan usai operator SPBU swasta turut menahan harga BBM jenis tersebut, sejak April 2026.
Daftar Harga BBM Vivo, BP-AKR, dan Pertamina:
Vivo
Revvo 92 : Rp16.670 per liter
BP-AKR
BP92 : Rp16.670 per liter
BP Ultimate : Rp Rp17.240/liter
BP Ultimate Diesel : Rp 25.060/liter
Shell
Shell V-Power Diesel : Rp24.490/liter
Shell Super : Kosong
Shell V-Power : Kosong
Shell V-Power Nitro+ : Kosong
Pertamina
Pertamax : Rp16.250
Pertamax Turbo : Rp20.750
Pertamax Green 95 : Rp17.000
Dexlite : Rp23.000
Pertamina Dex : Rp24.800
(azr/naw)





























