Setelah pengumuman tersebut, pasar obligasi Eropa berhasil mempertahankan penguatannya, di mana imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun turun tiga basis poin ke posisi 3,05%. Sementara itu, nilai tukar mata uang euro terpantau stabil terhadap dolar AS di level US$1,1538.
"Prospek ekonomi ke depan masih diliputi ketidakpastian, dengan risiko kenaikan untuk inflasi dan risiko penurunan untuk pertumbuhan ekonomi," tulis ECB dalam pernyataan resminya. "Dampak penuh dari perang terhadap inflasi dan pertumbuhan jangka menengah akan sangat bergantung pada intensitas serta durasi guncangan harga energi, serta skala dampak tidak langsung dan efek turunannya."
Kenaikan suku bunga ini menjadi respons kebijakan pertama dari bank sentral utama dunia terhadap lonjakan harga minyak yang dipicu konflik di Timur Tengah. Dengan perang yang kini memasuki bulan keempat, para pejabat di kawasan euro khawatir inflasi telah meluas melampaui sektor energi dan tidak akan serta-merta mereda hanya karena tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran, jika kesepakatan itu benar-benar terwujud.
Kekhawatiran tersebut tercermin dalam proyeksi kuartalan terbaru yang menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) akan meningkat lebih cepat tahun ini dibandingkan perkiraan sebelumnya, sebelum kembali menuju target inflasi 2% pada 2028. Namun, proyeksi baru itu juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang semakin melemah akibat inflasi dan tingginya biaya pinjaman yang menggerus daya beli masyarakat.
“Perang di Timur Tengah membebani aktivitas ekonomi, dan berbagai survei menunjukkan perlambatan, terutama di sektor jasa,” kata Lagarde. “Kenaikan harga energi akan mendorong inflasi lebih tinggi sepanjang musim panas dan membuatnya tetap berada jauh di atas target hingga paruh pertama tahun 2027.”
Ia meremehkan risiko terhadap perekonomian 21 negara anggota zona euro akibat kebijakan moneter yang lebih ketat, setelah kontraksi ekonomi pada kuartal pertama terutama dipicu oleh perlambatan tajam di Irlandia.
“Bukan berarti kita berada dalam situasi di mana pertumbuhan ekonomi tidak ada atau berada di bawah ancaman serius,” kata Lagarde.
ECB sebenarnya hampir mengambil langkah serupa pada April lalu. Bahkan sejumlah pejabat yang selama ini dikenal paling dovish menjelang rapat pekan ini menilai bahwa kini praktis tidak ada alternatif lain selain menaikkan suku bunga.
Para pembuat kebijakan masih memiliki ingatan kuat terhadap tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan inflasi tertinggi dalam sejarah modern dan ECB dituduh terlalu lambat merespons. Pada periode tersebut, suku bunga deposito akhirnya mencapai 4% sebelum mulai dipangkas pada pertengahan 2024.
Kali ini, para pejabat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap ekspektasi inflasi yang telah meningkat cukup tajam. Sebagian pihak bahkan khawatir tekanan inflasi akan semakin memburuk akibat kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk serta gangguan dalam rantai pasok global.
Sementara itu, negara-negara anggota G-7 lainnya belum menunjukkan keinginan yang sama untuk segera bertindak. Bank of Canada mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu. Pekan depan, Federal Reserve (The Fed) AS dan Bank of England juga diperkirakan akan menahan suku bunga, sementara Bank of Japan diperkirakan melanjutkan siklus pengetatan moneter secara bertahap yang dimulai sejak tahun lalu.
(bbn)





























