Sebagai informasi, dalam sepekan terakhir, rupiah bergerak melemah dari kisaran Rp17.800 per dolar AS menjadi di atas Rp18.100 per dolar AS.
Sementara dibandingkan sekitar satu bulan lalu, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp17.300-Rp17.500 per dolar AS.
Sementara itu, kinerja perseroan juga dikhawatirkan terimbas oleh kenaikan harga avtur. terutama melalui dampaknya terhadap operasional maskapai yang menjadi pelanggan perusahaan.
Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi menjelaskan, strategi yang ditempuh maskapai penerbangan untuk menghadapi kenaikan biaya avtur dapat berdampak pada aktivitas perawatan pesawat, khususnya pada segmen line maintenance yang sangat bergantung pada frekuensi penerbangan.
"Kalau line maintenance, ketika frekuensi penerbangan turun, otomatis memang akan berdampak pada pendapatan. Itu akan berpengaruh langsung," kata Andi.
Andi mengatakan, penurunan frekuensi penerbangan akibat tekanan biaya operasional maskapai dapat mengurangi kebutuhan layanan perawatan harian yang dilakukan GMFI di bandara. Namun, dampak tersebut tidak merata ke seluruh lini bisnis perseroan.
Dalam hal ini, segmen perawatan berat atau heavy maintenance seperti airframe, engine, dan komponen relatif lebih terlindungi dari gejolak jangka pendek harga avtur. Sebab, pekerjaan perawatan pada segmen tersebut telah direncanakan dan dijadwalkan jauh hari oleh pelanggan.
(cpa/naw)






























