Logo Bloomberg Technoz

Rupee India memimpin penguatan, disusul peso Filipina, baht Thailand, yuan offshore, dan rupiah termasuk di dalamnya. 

Sebaliknya, won Korea Selatan, ringgit Malaysia dan dolar Taiwan menjadi mata uang yang melemah sore ini.

Meski begitu, di balik penguatan rupiah yang terbatas sepanjang pekan pertama Juni sebenarnya rupiah telah tergerus 0,81%, dan menempati posisi ketiga sebagai mata uang terlemah di kawasan. 

Pergerakan mata uang kawasan pada Jumat (5/6/2026). (Bloomberg)

Meski nilai tukar rupiah secara rata-rata berada di level Rp17.057/US$ sepanjang tahun ini, sedangkan angka nilai tukar rupiah dalam asumsi APBN Rp16.500/US$ namun pemerintah belum ada rencana merevisi nilai tersebut. 

Di sisi lain, realisasi APBN edisi Mei 2026 mencatat defisit Rp180,4 triliun atau sebesar 0,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini tercatat lebih tinggi daripada posisi pada periode yang sama tahun lalu yakni Rp20,9 triliun atau 0,09% terhadap PDB. 

Sementara secara terpisah, dengan tertembusnya level Rp18.000/US$ pada bulan ini, para pelaku pasar memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah.

Melansir Bloomberg News, analis meramal bahwa bahwa rupiah berpeluang sekitar 45% dapat mencapai Rp19.000/US$ pada Desember mendatang, dan probabilitas 27% untuk melemah hingga Rp20.000/US$ dalam satu tahun ke depan. 

Di tengah pelemahan rupiah, investor juga melepas kepemilikan aset domestik lain seperti Surat Utang Negara (SUN) dengan imbal hasil yang tercatat naik pada hari ini. Secara year-to-date asing masih melepas obligasi senilai US$653 juta setara dengan Rp11,77 triliun, menggunakan kurs Rp18.020/US$. 

Di pasar saham, pada sesi perdagangan kemarin asing melepas kepemilikan saham sebesar US$70,6 juta. Sedangkan, sejak awal kuartal kedua tercatat US$1.410,9 juta.

Jika menggunakan kurs saat ini di Rp18.020/US$, maka nilainya mencapai Rp24,42 triliun, dan secara year-to-date sebesar US$3.358 juta atau setara dengan Rp60,51 triliun. 

(dsp)

No more pages