Presiden AS Donald Trump belum memberikan pernyataan resmi lagi mengenai isu Iran sejak pertemuan di Situation Room Gedung Putih pada hari Jumat. Dalam pertemuan tersebut, Trump menyatakan harapannya untuk segera mengumumkan kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran selama 60 hari. Melalui unggahan di media sosial pada hari yang sama, Trump kembali menegaskan tuntutannya, termasuk agar Iran menghentikan program nuklir dan memulihkan status Selat Hormuz sebagai jalur perairan internasional yang bebas.
Di sisi lain, kantor berita semi-pemerintah Iran, Tasnim, yang memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), melaporkan pada hari Minggu bahwa kedua belah pihak masih terus mengajukan perubahan terhadap rancangan kesepakatan. Namun, Tasnim mencatat adanya kemungkinan bahwa AS maupun Iran pada akhirnya akan menolak perubahan tersebut sehingga kesepakatan bisa batal.
"Bahkan setelah aksi jual baru-baru ini, minyak masih diperdagangkan pada level yang cukup tinggi," ujar Haris Khurshid, Chief Investment Officer di Karobaar Capital LP yang berbasis di Chicago. "Hal ini menunjukkan bahwa pasar belum memperhitungkan perdamaian penuh, melainkan baru memperhitungkan penurunan probabilitas terjadinya skenario terburuk."
Sementara itu, situasi regional kian memanas setelah Israel melancarkan inkursi terluasnya ke Lebanon dalam seperempat abad terakhir, merespons peningkatan serangan dari kelompok Hizbullah yang merupakan sekutu regional terkuat Iran. Tel Aviv sendiri tidak terlibat dalam perundingan antara Washington dan Teheran, dan belum ada kejelasan apakah mereka akan setuju untuk menghentikan perang terpisah di Lebanon tersebut.
Sejauh ini, sekitar seperempat dari kapal tanker minyak besar non-Iran yang terjebak di Teluk Persia sejak awal perang dilaporkan telah berhasil keluar secara diam-diam. Kendati demikian, beberapa kapal yang melintasi Selat Hormuz tetap menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari terakhir. Chief Executive Officer Chevron Corp, Mike Wirth, pada hari Jumat menegaskan bahwa risiko "sangat nyata" masih membayangi para pemilik kapal dagang di kawasan tersebut.
Harga:
- Minyak Brent untuk pengiriman Agustus naik 2,1% menjadi US$93,07 per barel pada pukul 06.58 waktu Singapura.
- Minyak WTI untuk pengiriman Juli naik 2,4% menjadi US$89,48 per barel.
(bbn)




























