Logo Bloomberg Technoz

Sedangkan, investor sepertinya banyak melepas tenor 5 tahun yang tercatat mengalami kenaikan imbal hasil 3,4 bps ke 6,69%, dan tenor 6 tahun 1,2 bps ke 6,77%. Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun, imbal hasilnya tercatat naik 2,2 bps ke 6,7%. 

Aksi beli ini tertopang oleh program intervensi yang dilakukan pemerintah sebagai upaya stabiliasi rupiah dengan target penyerapan Rp2 triliun per hari. 

Meski begitu, pasar obligasi berdenomonasi dolar AS (INDON) masih mencatatkan penurunan imbal hasil. Tenor 2 tahun turun 9,5 bps ke 4,17%, tenor 2 tahun turun 2,1 bps ke 4,44%, tenor 5 tahun turun 3,5 bps ke 4,81%, dan tenor 10 tahun turun 7,4 bps ke 5,37%. 

Aksi beli terjadi di pasar obligasi RI INDON ini terjadi di tengah penurunan yield obligasi AS. Tenor 2 tahun turun 6,6 bps ke 4,05%, tenor 3 tahun turun 6,8 bps ke 4,1%, tenor 5 tahun turun 6,6 bps ke 4,19%, dan tenor 10 tahun turun 5,3 bps ke 4,5%. 

Pelemahan rupiah terjadi lantaran rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia yang paling rendah di antara negara-negara lain. Rasio pendapatan negara terhadap PDB di Meksiko adalah 25% dan India 20%. 

Sedangkan di level Asia Tenggara, Filipina 21% dan Kamboja saja 15%. Adapun Indonesia hanya tercatat sebesar 11-12% dari PDB.

Pelaku pasar menangkap ini sebagai sinyal bahwa fiskal domestik yang masih rapuh di tengah tekanan global yang semakin besar. Rendahnya rasio penerimaan negara terhadap PDB dapat menunjukkan kepada investor bahwa ruang fiskal Indonesia relatif terbatas untuk menghadapi gejolak eksternal.

Apalagi ketika pemerintah membutuhkan belanja yang lebih besar untuk menjaga daya beli, subsidi energi, hingga melakukan upaya stabilitas ekonomi. 

(dsp)

No more pages