Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup Menguat di Rp18.055/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
10 July 2026 15:49

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan 0,16% ke Rp18.055/US$, bersama mayoritas mata uang Asia yang kompak berada di zona hijau, Jumat (10/7/2026).

Penguatan rupiah dan mata uang kawasan sejalan dengan meredanya ketagangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sehingga harga minyak mentah kembali terpangkas ke level US$76 per barel. Meski begitu, secara mingguan sebenarnya rupiah telah melemah 0,56%, bersama baht Thailand (-0,56%) dan dolar Taiwan (-0,76%).

Pergerakan mata uang Asia, Jumat (10/7/2026) sore. (Bloomberg)

Sehingga, bisa dikatakan penguatan rupiah pada akhir pekan ini lebih mencerminkan membaiknya sentimen eksternal dibandingkan perubahan fundamental domestik. Apresiasi tersebut juga sepertinya masih bersifat rapuh karena investor tetap mencermati arah kebijakan moneter global dan kondisi perekonomian domestik.


Dari sisi global, perhatian pelaku pasar akan kembali pada prospek suku bunga AS. Ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama membuat dolar AS berpotensi tetap kuat dalam beberapa waktu ke depan. Situasi ini dapat membatasi ruang penguatan mata uang di pasar negara berkembang, termasuk rupiah, meski tensi geopolitik mulai mereda.

Dalam pandangan UBS, sikap The Fed yang diprediksi akan kembali hawkish serta memburuknya defisit transaksi berjalan hingga 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkatkan kebutuhan Indonesia akan arus modal yang lebih besar demi menjaga rupiah tetap stabil.