Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menambahkan bahwa penerapan sistem tarif tol akan membuat kesepakatan dengan AS menjadi "tidak layak."
Pernyataan yang saling bertentangan mengenai isu-isu krusial tersebut membuat kejelasan posisi kedua belah pihak dalam mencapai kesepakatan menjadi kabur, terlebih setelah munculnya ancaman eskalasi baru-baru ini.
Harga minyak berfluktuasi dalam rentang yang lebar pada hari Kamis karena para pelaku pasar memantau ketat perkembangan dialog damai yang dapat memicu pemulihan segera arus pengiriman minyak di Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent sempat turun lebih dari 1,5% hingga diperdagangkan di bawah US$104 per barel, setelah sebelumnya sempat naik lebih dari 3% pada sesi yang sama.
Menurut Goldman Sachs, cadangan minyak mentah global beserta produk turunannya terus berkurang pada tingkat rekor bulan ini seiring menyusutnya pasokan dunia dengan cepat.
AS sendiri berulang kali menuntut Teheran menyerahkan uranium hasil pengayaannya karena khawatir akan digunakan untuk membuat bom atom, serta meminta komitmen Iran untuk menghentikan aktivitas pengayaan selama minimal satu dekade. Di depan publik, para pemimpin Iran menolak keras ketentuan tersebut, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pada hari Kamis bahwa "kami tidak akan pernah mundur" dalam meja perundingan.
Peringatan dari Trump
Sebelumnya pada hari Rabu, Trump telah memperingatkan bahwa ia bisa saja melanjutkan serangan militer dalam waktu dekat jika Iran menolak menyetujui ketentuannya. Ancaman ini sudah berulang kali ia gaungkan sejak gencatan senjata resmi berlaku pada 8 April lalu.
"Kami akan mencapai kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit buruk," kata Trump. "Tetapi mudah-mudahan hal buruk itu tidak terjadi."
Prospek perdamaian sebenarnya sempat terlihat positif setelah Iran mengisyaratkan bahwa perbedaan pandangan dengan AS mulai menyusut terkait draf 14 poin yang diajukan beberapa pekan lalu. Proposal tersebut mengusulkan kesepakatan jangka pendek yaitu Iran bersedia membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, sementara AS harus mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Setelah itu, kedua pihak baru akan melangkah ke negosiasi yang lebih mendalam terkait program nuklir Teheran.
Namun, Iran belum memberikan indikasi kapan mereka akan mengirimkan jawaban formal kepada AS. Kementerian Luar Negeri Iran justru menegaskan kembali tuntutannya yang meminta komitmen bahwa pertempuran harus diakhiri "di semua lini, termasuk Lebanon," di samping desakan untuk mencairkan aset-aset nasional yang dibekukan akibat sanksi.
Memasuki bulan ketiga konflik, Pezeshkian bersikeras bahwa negaranya tidak berada di ambang menyerah pada tekanan Barat.
"Memaksa Iran untuk menyerah melalui koersi tidak lebih dari sekadar ilusi," cuit Pezeshkian melalui akun resminya di platform X pada hari Rabu.
Sementara itu, Panglima Militer Pakistan Field Marshal Asim Munir, yang bertindak sebagai mediator sepanjang perang ini, menunda rencana kunjungannya ke Teheran pada hari Kamis. Kabar penundaan ini dilaporkan oleh Al Arabiya yang mengutip "sumber tingkat tinggi" tanpa menyebutkan namanya, membatalkan laporan sebelumnya yang menyebutkan ia akan bertolak ke ibu kota Iran tersebut.
Situs berita Axios, dengan mengutip sumber anonim, juga melaporkan bahwa Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terlibat dalam panggilan telepon yang sangat tegang pada hari Selasa. Laporan itu tidak merinci isi pembicaraan. Namun, Netanyahu sebelumnya menyatakan tidak memercayai Iran akan mematuhi pakta perdamaian apa pun, dan memberikan sinyal bahwa serangan udara ke wilayah Iran harus dilanjutkan pada titik tertentu dengan alasan kekuatan militer Iran harus dilemahkan lebih jauh. Laporan ketegangan telepon ini mencuat tidak lama setelah Trump sesumbar kepada wartawan bahwa Netanyahu "akan melakukan apa pun yang saya inginkan."
Menteri Energi Israel Eli Cohen menegaskan tidak ada "anak emas" di Iran jika pertempuran kembali pecah.
"Tahap berikutnya akan mencakup serangan terhadap target ekonomi, situs energi—minyak, gas, dan pembangkit listrik," katanya kepada radio Kim Baram pada hari Rabu.
Masalah rumit lainnya adalah situasi di Lebanon. Di wilayah tersebut, militer Israel—yang serangannya bersama AS ke Iran memicu perang ini pada akhir Februari lalu—masih terlibat pertempuran sengit melawan Hizbullah yang disokong Teheran. Israel sejauh ini menolak ide untuk menarik mundur pasukannya dari negara Arab tersebut. Gencatan senjata di lini tersebut dinilai sangat rapuh, di mana Israel dan Hizbullah masih terus saling serang setiap hari.
(bbn)































