Logo Bloomberg Technoz

Melalui strategi tersebut, BI aktif membeli SUN tenor panjang di pasar sekunder untuk menahan lonjakan yield, sembari menjaga daya tarik instrumen rupiah di tengah tingginya imbal hasil global, terutama obligasi Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, pasar juga mendapatkan dukungan dari intervensi Kementerian Keuangan melalui penggunaan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL). Pemerintah disebut melakukan pembelian SUN dengan target sekitar Rp2 triliun per hari untuk menjaga stabilitas pasar dan meredam volatilitas yang sempat meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Kombinasi kebijakan moneter agresif dan intervensi otoritas fiskal mulai memberikan sentimen positif bagi pasar obligasi domestik. Terutama setelah yield UST Treasury (UST) tenor 10 tahun turun cukup tajam sebesar 8,1 bps ke 4,59% kemarin. 

Penurunan tersebut terjadi meski risalah rapat Federeal Reserve menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih mengadopsi sikap hawkish menyusul meningkatnya risiko inflasi akibt perang Iran dan lonjakan harga energi global. 

Menurut Lionel dan Nanda, kondisi ini membuat aksi jual yang sebelumnya terjadi di pasar obligasi Indonesia (INDON) menjadi relatif lebih favorable. Yield INDON tenor 10 tahun justru sempat naik 5,1 basis poin ke level 5,59%, sehingga spread terhadap 10Y UST melebar menjadi sekitar 100,4 basis poin.

Pelebaran spread tersebut kembali meningkatkan daya tarik relatif surat utang Indonesia bagi investor global, khususnya investor pemburu imbal hasil tinggi di pasar negara berkembang.

Dengan spread yang kembali berada di atas 100 basis poin, ruang untuk terjadinya aksi beli di pasar SUN domestik menjadi lebih terbuka. Investor mulai melihat valuasi obligasi pemerintah Indonesia menjadi lebih menarik setelah koreksi tajam dalam beberapa pekan terakhir, terlebih ketika tekanan global mulai sedikit mereda.

(dsp/aji)

No more pages