Logo Bloomberg Technoz

“Udah bekerja selama 6 tahun, dan justru malah cukup buat sehari-hari, buat liburan, bisa buat nabung juga. Ya karena statement-nya ngawur saja (pemerintah). Orang Indonesia mah pasti mau jadi orang kaya,” katanya.

Berbeda dengan Faris, seorang pedagang sayur bernama Inem justru memandang kekayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Bagi dia, hidup yang tenang dan berkecukupan sudah lebih dari cukup.

 “Aku sih ora pengin mimpi jadi orang kaya raya. Penginnya ayem tentrem, semuanya kecukupan,” ujar Inem.

Perempuan yang telah puluhan tahun berjualan sayur itu mengatakan dirinya tidak memiliki ambisi hidup bergelimang harta. Menurut dia, rasa cukup datang dari hati dan rasa syukur atas apa yang dimiliki saat ini.

 “Kalau hatiku sudah merasa cukup, ya sudah alhamdulillah. Ada motor, anak bisa sekolah, ada rumah di kampung, itu sudah lebih dari cukup,” tuturnya.

Inem bahkan mengaku tidak ingin memiliki harta berlimpah karena merasa hidup sederhana justru lebih menenangkan. “Aku ndak mau yang kaya banget itu, nanti pusing mikir keluarin zakatnya,” kata dia sambil tertawa.

Perbedaan pandangan tersebut menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Kalangan menengah cenderung masih memiliki aspirasi untuk meningkatkan taraf hidup dan mengejar stabilitas finansial yang lebih besar, terutama di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Sementara sebagian masyarakat kelas bawah lebih menekankan rasa aman dan kecukupan dibandingkan dengan mengejar kekayaan besar yang dianggap dapat membawa beban baru.

Sebelumnya, dalam rapat paripurna saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF), Presiden Prabowo Subianto mengatakan masyarakat Indonesia lebih mendambakan kehidupan yang tenang, pekerjaan layak, serta pendidikan dan kesehatan yang baik bagi keluarganya. 

“Rakyat kita tidak bermimpi untuk mengalami kehidupan yang kaya raya, tapi mereka bermimpi untuk bisa hidup dengan layak, dengan baik,” ujar Prabowo.

Pernyataan itu muncul di tengah situasi ekonomi yang masih menantang. Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat, dipicu ketidakpastian global dan arus modal asing. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran dan keuangan sehari-hari.

(dec)

No more pages