“Ini adalah masalah yang kami tangani dengan sangat serius. Ini menyangkut perlakuan manusiawi terhadap warga sipil, dan saya dapat memastikan bahwa kami bertindak dengan urgensi penuh,” ujarnya kepada wartawan.
Belanda juga akan memanggil duta besar Israel, setelah Menteri Luar Negeri Belanda Tom Berendsen mengatakan perlakuan Ben-Gvir terhadap para tahanan “melanggar martabat dasar manusia”.
Warga negara Korea Selatan juga termasuk di antara mereka yang ditahan oleh angkatan laut Israel, kata Presiden Lee Jae Myung pada Rabu (20/5), sembari menyebut tindakan Israel “sangat keterlaluan”.
“Apa dasar hukumnya? Apakah itu wilayah perairan Israel?” tanya Lee. Ia menambahkan, “Apakah itu wilayah Israel? Jika ada konflik, apakah mereka bisa menyita dan menahan kapal milik negara ketiga?”
Kementerian Luar Negeri Portugal juga mengecam keras “perilaku tak dapat ditoleransi” dari Ben-Gvir.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menyebut perlakuan terhadap para aktivis sebagai sesuatu yang “mengerikan”, sementara Menteri Luar Negeri Irlandia Helen McEntee mengaku “terkejut” melihat rekaman tersebut dan menyerukan pembebasan segera para aktivis.
Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengatakan Ben-Gvir telah “mengkhianati martabat bangsanya” dengan mempublikasikan rekaman yang memperlihatkan para pegiat hak asasi manusia dibelenggu, disiksa, dan dipermalukan. Namun, ia tidak menjelaskan apakah yang ia kecam adalah tindakan kekerasannya atau keputusan untuk mengunggah video tersebut.
Negara-negara lain yang turut mengecam insiden itu antara lain Swedia, Swiss, Yunani, Jerman, Polandia, Qatar, Slovenia, Turki, Austria, Belgia, Kolombia, dan Inggris Raya.
Mogok Makan
Sebelumnya pada Rabu, Global Sumud Flotilla menyatakan di platform X bahwa setidaknya 87 orang yang ditahan pasukan Israel dari flotilla bantuan menuju Gaza memulai aksi mogok makan “sebagai bentuk protes atas penculikan ilegal terhadap mereka dan solidaritas terhadap lebih dari 9.500 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel”.
Pada Selasa (19/5) malam, pasukan Israel disebut “menculik” enam orang di atas kapal Lina al-Nabulsi, menurut pihak penyelenggara.
Kapal tersebut merupakan kapal terakhir dari rombongan lebih dari 50 kapal yang berangkat dari kota pelabuhan Marmaris di Turki pekan lalu menuju Gaza, dengan tujuan menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza.
Kementerian Luar Negeri Israel pada Selasa malam mengonfirmasi bahwa pasukannya membawa ratusan peserta flotilla ke Israel.
“Flotilla pencitraan lainnya telah berakhir. Seluruh 430 aktivis telah dipindahkan ke kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka akan dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka,” kata juru bicara kementerian tersebut, seraya menyebut aksi itu “tidak lebih dari sekadar aksi pencitraan”.
Penyelenggara mengatakan pasukan Israel mulai mengambil alih kapal-kapal tersebut di perairan internasional lepas pantai Siprus pada Senin, ketika mereka menggerebek kapal, diduga menembakkan peluru karet, dan menahan para peserta.
Para tahanan itu termasuk sembilan warga negara Indonesia, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI pada Rabu. Indonesia menyerukan pembebasan segera seluruh kapal dan menegaskan bahwa “setiap jalur diplomatik dan langkah konsuler akan terus dimanfaatkan secara maksimal”.
Sekitar 15 warga negara Irlandia, termasuk Margaret Connolly—seorang dokter sekaligus saudara perempuan Presiden Irlandia Catherine Connolly—termasuk di antara mereka yang ditahan.
Negara-negara seperti Turki, Spanyol, Yordania, Pakistan, Bangladesh, Brasil, Indonesia, Kolombia, Libya, dan Maladewa mengecam tindakan pencegatan Israel sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional”.
(del)






























