IHSG bergabung bersama Bursa Asia yang menetap di zona merah. Index TW Weighted Index (Taiwan), Hang Seng (Hong Kong), NIKKEI 225 (Tokyo), Topix (Jepang), PSEi (Filipina), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Straits Times (Singapura), KLCI (Malaysia), CSI 300 (China), dan Shanghai Composite (China) melemah masing–masing 1,35%, 1,34%, 0,92%, 0,73%, 0,56%, 0,53%, 0,48%, 0,37%, 0,04%, dan 0,03%.
Dengan demikian, IHSG adalah indeks saham dengan pelemahan terdalam di Asia.
Pelemahan Rupiah Seret IHSG
Investor gelisah terhadap pelemahan rupiah pagi hari ini yang mencapai Rp17.658/US$ di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg.
Pelemahan rupiah utamanya tersengat tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali mengencangkan sentimen risk–off. Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berkesudahan tanpa adanya kesepakatan besar, sehingga membuat investor putus asa.
Konflik AS–Iran masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks global, di tengah naik turunnya eskalasi antar kedua negara tersebut.
Panin Sekuritas menyebut, Presiden Trump memperingatkan waktu Iran untuk mencapai kesepakatan semakin terbatas. Sementara media Iran menyebut negosiasi belum menghasilkan konsesi nyata dari pihak AS.
“Patut dicermati, serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia serta berakhirnya waiver penjualan minyak Rusia turut memperketat pasokan energi global,” papar Panin Sekuritas.
Terseret hal tersebut, pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan ganda terhadap APBN dalam bentuk subsidi energi yang diproyeksikan membengkak, sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif.
Ketidakpastian tersebut pada akhirnya tercermin ke dalam pergerakan pasar keuangan domestik. Investor terlihat mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar, seiring adanya kekhawatiran besar tersebut.
(fad/aji)




























