Ketidakpastian tersebut pada akhirnya tercermin ke dalam pergerakan pasar keuangan domestik. Investor terlihat mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar, seiring adanya kekhawatiran tersebut.
Mega Capital Sekuritas memproyeksikan tekanan di pasar obligasi berpotensi berlanjut dan memperkirakan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun diperkirakan naik ke rentang 6,85-7,05% untuk INDON dan 5,4-5,6% untuk SUN.
Tekanan di pasar obligasi tersebut terjadi seiring adanya depresiasi rupiah di pasar luar negeri dan berpotensi menyeret rupiah di pasar spot berada di kisaran Rp17.450-17.650/US$.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar seperitnya mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi, baik di pasar valas maupun obligasi.
Meski begitu, konsensus Bloomberg sejauh ini masih memperkirakan Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur BI periode Mei. Lonjakan harga minyak dinilai belum cukup kuat untuk mendorong inflasi keluar dari kisaran target 1,5-3,5%, sehingga ruang untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi masih terbuka.
Namun, ruang BI untuk tetap dovish kemungkinan tidak akan berlangsung lama. Jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama dan dorongan pertumbuhan permintaan mulai memicu tekanan inflasi yang lebih besar, maka BI diperkirakan akan kembali membuka peluang kenaikan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
(dsp/aji)





























