Produksi Mineral
Dari golongan mineral logam, produksi bijih nikel Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 320,37 juta ton. Sementara itu, produksi nickel matte dilaporkan sebesar 91.500 ton dan feronikel mencapai 579.430 ton.
Produksi bijih tembaga dilaporkan mencapai 101,59 juta ton. Selanjutnya, produksi konsentrat tembaga mencapai 2,3 juta ton dan katoda tembaga sebesar 330.240 ton.
Untuk bijih timah, produksi tahun lalu tercatat sebesar 98.670 ton, konsentrat timah 64.750 ton, serta logam timah mencapai 55.040 ton.
Sementara itu, produksi bijih bauksit dilaporkan mencapai 33,75 juta ton dan konsentrat besi sekitar 1,2 juta ton, sedangkan produksi bijih besi mencapai 2,19 juta ton.
Pada logam mulia, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat produksi logam emas mencapai 81,2 ton dan logam perak sebesar 402,7 ton.
Sebagai catatan, Ditjen Minerba dalam rencana kerja strategis (renstra) mematok target produksi bijih nikel sebesar 209,08 juta ton pada tahun ini.
Akan tetapi, dalam realisasinya pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, kuota produksi bijih nikel disetujui sekitar 260—260 juta ton.
Selain itu, dalam renstra Ditjen Minerba Kementerian ESDM, produksi batu bara dicanangkan sebanyak 733 juta ton. Dari besaran itu, sekitar 247,9 juta ton ditargetkan diserap oleh pasar domestik untuk program DMO.
Dalam perkembangannya, Kementerian ESDM hanya menyetujui kuota produksi batu bara dalam RKAB 2026 sekitar 600 juta ton.
Berikut target produksi komoditas mineral yang ditetapkan Ditjen Minerba tahun ini dalam renstra 2026:
- Katoda Tembaga: 696.800 ton
- Logam Emas: 112,91 ton
- Logam Timah: 65.860 ton
- Fero Nikel: 540.400 ton
- Nickel Matte: 91.600 ton
- Smelter Grade Alumina: 0
- Sponge Ferro Alloy: 1,7 juta ton
- Bijih Nikel: 209,08 juta ton
- Bijih Bauksit: 22,64 juta ton
- Bijih Tembaga: 91,5 juta ton
- Bijih Besi: 7,2 juta ton
(azr/wdh)




























