Logo Bloomberg Technoz

Di tenor menengah lainnya, yield tenor 6 tahun turun 3,6 bps menjadi 6,71%, tenor 7 tahun melemah 3,2 bps ke 6,72%, tenor 8 tahun turun 2,9 bps menjadi 6,73%, dan tenor 9 tahun turun 1,2 bps ke 6,75%. Sementara tenor acuan 10 tahun juga mengalami penurunan yield sebesar 2,8 bps menjadi 6,68%.

Meski demikian, tekanan jual masih terlihat pada sebagian tenor panjang. Yield tenor 11 tahun naik 2,7 bps menjadi 6,74%, tenor 12 tahun meningkat 4,1 bps ke 6,83%, dan tenor 13 tahun naik 2,9 bps menjadi 6,84%. Kenaikan yield juga terjadi pada tenor 15 tahun, 16 tahun, 18 tahun, hingga 40 tahun, meski dalam besaran yang relatif terbatas.

Sementara dari pasar Asia, turunnya harga minyak 0,79% ke posisi US$106,92 memberi ruang penguatan pada sebagian mata uang kawasan. Won Korea Selatan menguat, disusul rupiah pada posisi kedua, ringgit Malaysia, baht Thailand, peso Filipina, yuan China dan yuan offshore. 

Sebaliknya, rupee India, yen Jepang, dolar Taiwan, Hong Kong dan Singapura tercatat melemah sore ini. 

Mata uang kawasan Asia sore ini (13/5/2026). (Bloomberg)

Meski rupiah berhasil menguat pada perdagangan sore ini, penguatan tersebut sepertinya belum cukup untuk mengubah arah besar sentimen pasar terhadap Indonesia. Level rupiah yang masih bertahan jauh di atas Rp17.000/US$ menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik belum benar-benar mereda. 

Pasar tampaknya masih memandang penguatan hari ini lebih sebagai respons jangka pendek akibat intervensi dan perbaikan sentimen regional, bukan karena fundamental domestik yang telah membaik secara signifikan.

Intervensi melalui bond stabilization fund memang memberi efek instan terhadap pasar obligasi dan dapat membantu meredam tekanan di pasar keuangan. Namun, instrumen tersebut pada dasarnya hanya berfungsi sebagai penahan gejolak sementara.

Selama kekhawatiran investor terhadap ruang fiskal, risiko pembiayaan APBN, dan potensi capital outflow masih tinggi, maka volatilitas rupiah dan pasar obligasi diperkirakan tetap besar dalam beberapa waktu ke depan.

Pasar juga sepertinya masih akan mencermati sejauh mana pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, keberlanjutan fiskal, dan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi.

(dsp)

No more pages