Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Dengan peningkatan kapasitas dan kompleksitas kilang, Pertamina Patra Niaga menargetkan produksi bahan bakar dan produk petrokimia bernilai tinggi yang berdaya saing global.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M.V. Dumatubun mengatakan proyek ini merupakan bentuk dukungan terhadap program Asta Cita Pemerintah yang menekankan kemandirian energi nasional.
“Melalui pendekatan Dual Growth Strategy, Pertamina Patra Niaga memperkuat bisnis eksisting sekaligus meningkatkan kompleksitas kilang agar mampu menghasilkan produk bernilai tinggi yang memiliki daya saing global,” ujar Roberth.
Kedua proyek ini menggunakan konsep high conversion refinery yang mampu mengolah produk dengan efisiensi lebih tinggi dan menghasilkan output yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Kilang Gasoline Dumai ditargetkan memproduksi 0,9 juta kiloliter gasoline per tahun, 86 ribu ton LPG, dan 124 ribu ton propylene.
Sementara itu, Kilang Gasoline Cilacap diproyeksikan menghasilkan 1,1 juta kiloliter gasoline per tahun, 50 ribu ton LPG, dan 145 ribu ton propylene. Kapasitas produksi tersebut diharapkan memberi kontribusi signifikan dalam mengurangi impor BBM dan bahan baku petrokimia.
Secara teknis, Kilang Dumai akan memiliki kapasitas 30 ribu barel per hari, sedangkan Kilang Cilacap mencapai 32 ribu barel per hari. Kedua fasilitas tersebut akan diintegrasikan dengan infrastruktur kilang yang sudah ada agar operasional berlangsung lebih efisien.
Hemat Devisa dan Serap Ribuan Tenaga Kerja
Selain memperkuat ketahanan energi, proyek ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Indonesia. Pertamina memperkirakan peningkatan kapasitas kilang dapat menghemat devisa negara hingga sekitar Rp20 triliun per tahun.
Penghematan ini berasal dari penurunan impor BBM dan meningkatnya pasokan produk energi dari dalam negeri. Proyek ini juga diperkirakan menyerap hingga 6.000 tenaga kerja selama masa konstruksi dan operasi.
Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan pada sektor energi, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Produk gasoline yang dihasilkan akan memenuhi standar bensin ramah lingkungan dengan kandungan sulfur di bawah 50 ppm.
Standar tersebut sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung transisi energi dan penyediaan energi yang lebih bersih. Proyek ini juga menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30 persen.
Roberth menegaskan bahwa pembangunan kilang bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang keberlanjutan.
“Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama terkait energi bersih, penyediaan lapangan kerja layak, pertumbuhan ekonomi, serta inovasi industri,” tegas Roberth.
Pembangunan Kilang Gasoline di Cilacap dan Dumai merupakan bagian dari groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada April lalu dan dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Total investasi dari seluruh proyek yang diresmikan mencapai Rp116 triliun. Proyek-proyek tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dari Maluku hingga Papua.
Rangkaian proyek mencakup pembangunan tangki penyimpanan BBM, pengolahan kelapa dan pala, peningkatan kapasitas produksi baja karbon, hingga pengembangan proyek batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Pemerintah juga mendorong optimalisasi Aspal Buton sebagai bagian dari strategi memperkuat industri nasional. Pertamina Patra Niaga menilai hilirisasi menjadi fondasi penting untuk menciptakan ekonomi yang lebih mandiri dan berkeadilan.
“Beragam proyek hilirisasi tersebut merupakan wujud nyata kebijakan pemerintah untuk menciptakan ekonomi berkeadilan melalui kemandirian energi dan industri dalam negeri. Pertamina Patra Niaga bangga menjadi bagian dari upaya besar ini,” tutup Roberth.
Melalui proyek di Cilacap dan Dumai, Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk memperkuat pasokan energi domestik. Di saat yang sama, perusahaan juga mendorong pertumbuhan industri nasional yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Jika proyek berjalan sesuai rencana, Indonesia akan memiliki kapasitas produksi yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional dari sumber domestik. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan ekonomi jangka panjang.