Logo Bloomberg Technoz

Tekanan juga datang dari faktor cuaca. India, sebagai produsen beras terbesar dunia, diperkirakan menghadapi musim monsun yang lebih lemah akibat ancaman fenomena El Niño. Curah hujan yang berada di bawah normal berpotensi menekan produktivitas pertanian dan memperburuk pasokan global.

Meski demikian, ekspor beras India diperkirakan masih tetap kuat. Sebaliknya, pengiriman dari Amerika Serikat diprediksi mengalami penurunan. Kombinasi penurunan produksi dan tingginya permintaan global membuat harga beras mulai merangkak naik di pasar internasional.

Harga beras putih Thailand, yang menjadi acuan pasar Asia, tercatat telah naik sekitar 10% sejak akhir Maret. Sementara itu, kontrak berjangka beras di Chicago Board of Trade melonjak 8% pekan lalu, kenaikan terbesar dalam dua tahun terakhir.

Indeks harga beras Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga menunjukkan tren peningkatan seiring melonjaknya biaya energi dan distribusi di negara-negara eksportir.

Harga beras global naik, seiring turunnya tingkat produksi akibat gangguan perang antara AS-Iran. (Bloomberg)

Kenaikan harga beras ini berpotensi memperbesar tekanan inflasi pangan di berbagai negara. Filipina, misalnya, mulai mencatat kenaikan harga beras di tingkat domestik. Di kawasan Asia, di mana beras menjadi sumber pangan utama masyarakat, gejolak harga berpotensi memengaruhi daya beli, stabilitas sosial, hingga kebijakan ekonomi pemerintah.

Gangguan di Selat Hormuz akibat konflik geopolitik juga memperparah situasi karena jalur tersebut menjadi salah satu rute penting distribusi energi dunia. Kelangkaan bahan bakar dan pupuk yang muncul kemudian berdampak langsung pada biaya produksi pertanian di berbagai negara Asia, mulai dari Kamboja hingga India.

Di tengah ketidakpastian global, penurunan produksi beras dunia menjadi pengingat bahwa krisis geopolitik, perubahan iklim, dan ketergantungan pada energi kini semakin terkait erat dengan ketahanan pangan global.

(dsp/ros)

No more pages