I-GCC FTA: Taktik Alternatif Poros Ekonomi Hijau bagi Indonesia
Redaksi
12 May 2026 13:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memandang bahwa diversifikasi kerja sama ke negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) bisa menjadi langkah strategis bagi Indonesia untuk memperluas ruang manuver dan membangun poros ekonomi hijau yang lebih stabil dan berbasis syariah.
Pasalnya, perebutan pengaruh AS dan China di Asia Tenggara menyebabkan Foreign Direct Investment (FDI) AS lebih besar tetapi fluktuatif karena faktor geopolitik dan relokasi rantai pasok, sedangkan FDI China lebih kecil tetapi stabil lewat strategi industrialisasi jangka panjang seperti Belt and Road Initiative (BRI).
"Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi rawan antara ketidakpastian AS dan risiko ketergantungan struktural pada China. Karena itu, diversifikasi ke mitra alternatif seperti GCC menjadi langkah strategis, khususnya untuk pembiayaan hijau yang lebih stabil dan selaras dengan ekonomi syariah," bunyi riset INDEF, dikutip Selasa (12/5/2026).
Selain itu, ketergantungan ekspor Indonesia ke China naik dari 13,7% menjadi lebih dari 25% dalam tujuh tahun, sementara ke AS stagnan di kisaran 9–11%. Kenaikan ini mencerminkan integrasi rantai pasok dengan Beijing, tetapi juga meningkatkan risiko konsentrasi pasar, sedangkan stagnasi di AS menandakan lemahnya penetrasi produk bernilai tambah.
"Ketimpangan ini mempersempit ruang manuver Indonesia di tengah rivalitas dua kekuatan besar dan menegaskan urgensi diversifikasi ke mitra non-hegemonik seperti GCC," jelas laporan bertajuk I-GCC FTA: Strategi Alternatif Poros Ekonomi Hijau Indonesia.
































